Indonesia de citas

Sitios de citas individuales Indonesia sitios web de citas en Armenia filipinas. Virgo hombre y mujer tauro citas. Sitio web gratuito de citas veganas. Universidad de waterloo sitio de citas. Saliendo con una persona corta. Los mejores sitios de citas en dc. Datación radiactiva en medicina. Citas musulmanas norsk. Indonesia, Badoo. India, Indonesia, Iran, Iraq, Irlanda, Isla Bouvet, Isla de Man, Isla de Navidad ¡Ahora es GRATIS recibir y repasar los perfiles de tus posibles parejas! distingue de otros sitios de citas en internet y es la clave de nuestro éxito. Solo una fracción de las personas solteras que conozcas en línea será compatible contigo. Sitio de citas gratuito para encontrar la mejor relacin, la amistad, la comunicacin y el matrimonio. Hombres y mujeres solteros de tu ciudad. mejores citas en linea en Indonesia. Indonesia Peru. Vdeo insertadoAPP de citas para polgamos en Indonesia prcticamente la mitad de los internautas otorgan la mejor Indica una valoracin global para el sitio. Una pareja atrae a un hombre a través de una app de citas, lo asesinan y desmiembran su cuerpo en 11 partes en Indonesia sept. 22, 2020 Una pareja de Yakarta (Indonesia) fue arrestada el pasado miércoles tras asesinar a un hombre y desmembrar su cuerpo en 11 partes para obtener su dinero, según informó el periódico Jakarta Globe. Zoom is the leader in modern enterprise video communications, with an easy, reliable cloud platform for video and audio conferencing, chat, and webinars across mobile, desktop, and room systems. Zoom Rooms is the original software-based conference room solution used around the world in board, conference, huddle, and training rooms, as well as executive offices and classrooms. Fecha de muerte: 21. Junio 1970 Junio 1970 Sukarno, , fue un político indonesio y el primer presidente de la República de Indonesia tras la independencia del archipiélago, anteriormente colonia de los Países Bajos. Libre de citas en línea, anuncios personales, clase de fotos, chat en vivo y mucho más. Únete a la de crecimiento más rápido a Internet gratuito en sitio de citas!. We Martin and Stephane created Indonesia Romances to connect Western single guys looking for Indonesian women to meet as friends or settle down with and have a loving relationship. Menores de edad son obligados a casarse en Indonesia por “tener una cita” de noche ... local que prohíbe a las parejas jóvenes a tener citas después de que anochezca, y estos adolescentes ... como conocer personas en line Una semana después de llegar de Indonesia, es escribir su nombre y se me ponen los pelos de punta, consigo sentarme en el. superintendencia nacional de migraciones citas en linea The tropical island nation of Indonesia is an archipelago of more than islands spread out along. Indonesia, Badoo. India, Indonesia, Iran, Iraq, Irlanda, Isla Bouvet, Isla de Man, Isla de Navidad ¡Ahora es GRATIS recibir y repasar los perfiles de tus posibles parejas! distingue de otros sitios de citas en internet y es la clave de nuestro éxito. Solo una fracción de las personas solteras que conozcas en línea será compatible contigo.

Wawancara - [Arczre]

2020.07.25 03:22 Bosanpacaran Wawancara - [Arczre]

Cerpen

​ ​
Tahun 1965 merupakan tahun yang kelam bagi perjalanan republik ini. Sesuatu yang besar terjadi di tahun itu. Sesuatu peristiwa yang akan dikenang dengan dua macam cara. Cara pertama akan dikenang sebagai sebuah peristiwa besar yang akan mengakarkan kebencian membabi buta hingga beranak cucu. Cara kedua akan menjadi trauma terbesar bagi republik ini. Semuanya adalah bencana.
[](https://i.postimg.cc/tT6YStHP/68d3c5472150684.png)*
Kereta api yang mengantarkanku pun tiba. Hari sudah pagi ketika itu. Stasiun Kota Kediri menyambutku dengan embun tipis yang menempel di kaca kios-kios penjual makanan. Kulihat anak-anak kecil pemungut minyak yang tumpah di sepur tanki milik pertamina sudah mulai memasang tas kresek hitam besar. Mereka adalah para penjarah cilik. Rupanya kebiasaanku dulu waktu kecil yang melakukan hal itu masih menurun hingga sekarang.
Saat aku mulai melangkah keluar dari stasiun para tukang becak langsung berebutan untuk menawarkan jasa mereka. Masih pukul 6 pagi. Kereta Matarmaja memang datang lebih awal dari biasanya. Terlebih jemputanku belum datang sekarang. Aku terpaksa menolak bapak-bapak tukang becak tersebut saat aku melihat warung nasi pecel tumpang yang tak jauh dari sana. Sudah lama, kurang lebih 15 tahun lamanya aku tidak pernah merasakan lagi sajian kuliner sambel tumpang. Belum memakannya saja aku sudah bisa memikirkan bagaimana rasanya. Ah, kangen sekali mengingat masa-masa itu.
Sepincuk nasi pecel dan sambel tumpang sudah aku pesan. Aku nikmati sarapan pagi itu setelah semalaman tidak menjamah makanan apapun di dalam kereta. Aku terlibat perbincangan dengan beberapa orang yang ikut menjadi langganan di warung ini. Mereka menceritakan tentang kota Kediri yang sudah aku tinggalkan cukup lama. Mulai dari mal-mal baru yang dibangun. Pembangunan jalan, pertokoan, dan masih banyak yang lainnya. Aku sampai berpikir bahwa kota ini sudah menjadi kota konsumtif.
Adapun tujuanku rela jauh-jauh dari Jakarta ke Kediri adalah karena satu hal. Aku sedang mencari narasumber tentang pembantaian yang terjadi saat peristiwa 1965. Menurut Andika sepupuku yang tinggal di kota ini ada saksi hidup dari peristiwa mengerikan tersebut. Andika bisa mengantarkanku ke tempat orang itu. Aku rela melakukan ini juga tuntutanku sebagai seorang wartawan media elektronik yang terkemuka di negeri ini. Menguak luka lama memang tidak mudah, tapi aku tetap berharap aku bisa mewawancarai tokoh tersebut.
Tak terasa sarapan yang aku pesan tadi sudah habis. Segelas teh hangat pun meluncur memasahi kerongkonganku. Perutku kenyang sekarang. Tinggal menunggu sepupuku itu. Kuberitahu kepada dia kalau aku sedang sarapan di warung dekat stasiun. Dia pun kemudian datang.
“Udah lama mas Kim?” sapa Andika.
“Eh, An? Iya sampe habis dua piring,” jawabku.
“Hahahaha, sepurane mas. Tadi harus bantu-bantu ibu dulu,” ujarnya.
“Yowis, ayuk! Langsung wae,” kataku.
Singkat cerita dengan diantar Andika, aku pun menuju ke rumah tempat saksi sejarah itu. Mobil yang kami tumpangi berjalan dengan santai melintasi kota kecil ini. Setelah melewati jalanan besar, kami berbelok ke sebuah jalan kampung.
“Orangnya tinggal di daerah pedesaan mas. Dulu sampeyan kan pernah main juga ke tempat ini,” terang Andika.
“Iya, tapi sudah lama An. Semenjak ibu meninggal aku sudah tidak di sini lagi. Bagaimana kabar keluargamu?” tanyaku.
“Baik koq. Ibu sehat, adik juga sehat. Sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan travel mas,” jawabnya. “Semenjak bapak nggak ada, aku yang satu-satunya jadi tulang punggung keluarga. Mas, sendiri bagaimana kabarnya di Jakarta?”
“Yah, beginilah An. Dinikmati saja. Apalagi menjadi wartawan memang sudah jadi cita-citaku sejak dulu. Untungnya istriku pengertian. Kami satu profesi sama-sama mengejar berita, walaupun beda kantor. Hahahaha,” gelakku.
“Koq bisa? Saingan gitu ceritanya?” tanya Andika keheranan.
“Iya, tapi kami sama-sama pengertian koq. Yang seru itu kalau mengambil berita dari sumber yang sama. Kami sering berebut gitu. Tapi menyenangkan. Kalau sudah pulang ke rumah ya sudah melupakan semuanya. Di lapangan aja kami seperti musuhan. Kalau udah di rumah ya udah selesai. Urusan kerjaan ya urusan kerjaan, urusan rumah ya urusan rumah,” jelasku.
Setelah mengemudi selama satu jam, kami sampai di sebuah jalanan yang tidak beraspal. Sebuah pedesaan yang agak jauh dari jalan raya. Mobil melaju pelan melewati pemakaman yang ditumbuhi pepohonan besar yang menjorok ke tepi jalan. Pemandangan mobil masuk desa merupakan pemandangan yang tidak biasa di sana tentu saja. Berapa banyak orang yang punya mobil di desa seperti ini?
Mobil berbelok ke sebuah rumah yang mempunyai halaman yang cukup luas. Setelah mematikan mesin kami pun keluar. Andika langsung menuju ke pintu dan mengetuknya.
“Assalaamu'alaykum?” sapa Andika.
“Wa'alaykum salam,” sahut orang yang ada di dalam rumah. Seorang perempuan paruh baya dengan baju daster bercorak merah kehitaman keluar dari dalam. Melihat kami berdua sepertinya perempuan itu sudah mengetahui siapa kami. “Oh, ini yang mau mewawancarai mbah Malik?”
“Inggih bu, mbah dateng pundi (iya bu, mbah ada di mana)?” tanya Andika.
Tiba-tiba seseorang datang dari arah lain. “Weilah dalah, ini mas A'an ya?”
Kami berdua membalikkan badan melihat seorang lelaki tua yang membawa kelewang. Tampak kayu bakar ada di punggungnya pun diletakkan di halaman rumahnya.
“Sri, tulung beberen kayu iki yo nduk. Ben ora melempem pas digawe masak (Sri, tolong jemur kayu ini. Biar tidak melempem ketika digunak untuk memasak)!” perintah kakek tua ini.
Singkat cerita kami kemudian duduk di bale-bale sementara Sri perempuan tadi membuatkan kami kopi. Setelah itu dia membeber kayu-kayu yang dibawa oleh kakek ini di halaman rumahnya. Dua pak rokok Dji Sam Soe tergeletak di atas bale-bale. Di dekatnya ada sebuah asbak dan sebuah korek api.
Mbah Malik ini tinggal bersama anak dan cucunya. Sri adalah anaknya paling muda dan sudah punya empat orang anak. Sementara suaminya menjadi buruh tani yang sekarang masih macul belum balik.
“Jadi, saya ke sini ingin bertanya tentang peristiwa Gestapu yang sebenarnya mbah. Karena menurut kabar, mbah ini satu-satunya orang saksi sejarah yang masih hidup dan mengalami langsung apa yang terjadi waktu itu,” ucapku. Aku kemudian mempersiapkan ponselku untuk merekam pembicaraan kami.
Lelaki tua yang bernama asli Abdul Malik ini menghela nafas. Kerutan-kerutan di dahinya bertambah. Ia seperti konsentrasi memikirkan sesuatu, memilah-milah memori yang tersimpan di dalam otaknya selama ini.
“Jaman itu negara dalam kondisi genting. Setidaknya itu yang dikatakan oleh para petinggi. Jam malam diberlakukan. Anak-anak tidur lebih awal. Perempuan-perempuan dipingit di dalam rumah agar tidak sembarangan keluar. Orang-orang waktu itu ketakutan,” ujarnya. Tangannya mulai bergerak mengambil sebatang rokok. Kemudian dengan lihainya menyalakan korek api dan membakar ujung benda 10 cm tersebut. Asap mulai mengepul lalu ia melanjutkan ceritanya.
“Dulu saya masih tinggal di Burengan. Jaman itu ketika kami menerima kabar dari pemerintah bahwa PKI telah melakukan kudeta segera saja para kyai waktu itu memberikan fatwa jihad fi sabilillah. Saat itu saya menjadi ketua kelompok. Kami semua berkumpul di alun-alun kota untuk melakukan apel siaga terlebih dulu. Di sini semuanya diberi arahan oleh dua kyai. Saya masih ingat bagaimana Kyai Syafi'i Sulaiman berkata seperti ini, 'PKI telah menginjak-injak agama Islam dan hendak menumpas kaum muslimin di Indonesia. Atas dasar ini maka tugas kita hanya satu TUMPAS PKI!'”
Aku menelan ludah mendengar ceritanya. Seakan-akan seluruh bulu kudukku merinding waktu itu. Namun tenyata kengerian cerita ini tidak berhenti di situ saja.
“Sebenarnya sebelum dilakukan apel di alun-alun beberapa saat sebelumnya ada kelompok komando militer yang berada di rumah Haji Sopingi. Di sana mereka menerima perintah yang lebih tinggi agar segera dilakukan apel lebih awal. Saya kurang tahu siapa orang yang memberikan komando itu. Hanya saja yang jelas bagi kami para santri hanya patuh dan tunduk kepada apa yang diucapkan oleh Kyai,” sambung Mbah Malik.
“Perintah penumpasan PKI itu didukung oleh militer. Dalam hal ini ABRI beserta para kyai dan santri telah berupaya untuk benar-benar melakukan hal ini. Ketua Ansor waktu itu saja diberi bedil untuk latihan tembak di Gunung Klotok. Setelah apel besar itu, dimulailah apa yang kalian sebut pembantaian terbesar sepanjang sejarah. Anak-anak kami waktu itu dihantui dengan pemandangan yang mengerikan. Kalau beruntung mereka akan menemukan kepala mengapung di Kali Brantas atau usus yang mengapung di sana,” Mbah Malik menatap ke mataku melihat apa reaksiku atas ceritanya ini.
“Trus bagaimana kronologisnya mbah?” tanyaku.
“Tiap malam, mereka akan memberikan kami daftar-daftar orang yang diduga sebagai anggota PKI. Dari daftar itu para prajurit ABRI kemudian mengangkut mereka semua ke atas truk. Tua muda, laki atau pun perempuan. Kami tak pernah tahu bagaimana wajah mereka, siapa mereka. Hanya orang-orang tentara saja yang tahu siapa saja mereka. Bahkan waktu itu ada seseorang yang tidak suka dengan tetangganya saja langsung dicap PKI, maka pada waktu itu semua orang menjaga sikap mereka masing-masing takut diciduk,” ujar Mbah Malik. Matanya menoleh ke arah kelewang yang teronggok di atas bale-bale.
“Pada malam hari aku diberitahu bahwa sudah saatnya bekerja. Satu-satunya senjata yang aku punya waktu itu adalah ini!” Mbah Malik menunjukkan kelewang yang tadi dia bawa. Kelewang itu panjangnya kurang lebih 70cm.
Kembali lagi-lagi aku menelan ludah. Aku tak bisa membayangkan bahwa kelewang yang ada di atas bale-bale itu adalah yang pernah dipakai oleh beliau.
“Saat itu ada dua macam orang-orang PKI. Yang melawan dan yang tidak. Yang melawan maka mereka pasti punya kekuatan. Kami bahkan sempat terjadi perang dengan mereka. Tepatnya di Desa Batuaji. Saat itu di sana masa PKI lebih besar dari pasukan kami, sehingga dengan bantuan tentara kami pun bisa mengalahkan mereka semuanya. Anggota ABRI yang menangkap mereka pun melempar mereka ke atas truk.
“Truk-truk itu kemudian mengantarkan mereka semua ke tempat eksekusi. Tentara-tentara itu hanya menangkap mereka, namun yang jadi pengeksekusinya adalah kami. Tiap malam beragam jumlahnya. Ada empat sampai dua puluh orang. Mereka sebelumnya ditampung di mana pun kami tak tahu. Kebanyakan korban tidak ada yang melawan. Sebagaimana yang tadi saya ceritakan, kalau mereka disekap mata mereka sehingga tidak melihat kami.
“Kondisi para tawanan diikat tangannya di belakang. Mereka kemudian berlutut. Kebanyakan mereka tak bicara, entah takut atau apa. Yang jelas para santri yang sudah membawa golok, parang, kelewang sudah siap menebas leher-leher mereka. Saya sendiri mengeksekusi mereka sekali tebas. DES!” Mbah Malik memeragakan bagaimana cara dia menebas.
Aku agak tersentak melihat tingkahnya. Terlalu menghayati? Bisa saja. Karena berhadapan dengan orang yang rela membunuh demi sebuah perintah dari kyainya merupakan hal yang baru pertama kali aku alami. Apakah mereka psikopat? Bukan, mereka bukan psikopat. Mereka melakukan itu karena kecintaan mereka terhadap tanah air mereka waktu itu. Walaupun mungkin ada berbagai konspirasi dan tetek bengek lainnya. Aku tetap tak bisa mempercayainya hal ini ada dan terjadi di negara tempatku hidup.
Andika sendiri sampai menarik nafas berat ketika melihat Mbah Malik tadi memperagakan bagaimana cara dia menebas orang. Namun yang lebih menarik apa yang diceritakannya setelah ini.
“Ada satu orang yang waktu itu saya tebas nggak mempan. Mungkin dia punya pengasihan atau ilmu kebal. Lehernya saya tebas tapi kelewang malah mental. Teman saya pun menebas, mental lagi. Sampai akhirnya saya dinasehati oleh salah seorang yang ilmu kesaktiannya lebih tinggi untuk memukulnya dengan rotan yang sudah diberi asma. Akhirnya manjur. Tubuh PKI itu tersungkur, selanjutnya kami beramai-ramai membacoknya.
“Setelah itu kami beramai-ramai melemparkan mayat mereka ke atas Kali Brantas. Selama berhari-hari warna airnya merah karena darah orang-orang yang kami bantai. Itu tidak mengherankan kami ada beberapa tempat pembantaian, kemudian mayatnya dilemparkan ke atas sungai. Anak-anak dan para perempuan ketakutan waktu itu. Mereka sampai trauma,” terang Mbah Malik.
Aku beristirahat sejenak untuk menyeruput kopi yang sudah tersaji. Agaknya mentalku harus benar-benar siap untuk mendengar cerita dari Mbah Malik ini.
“Lalu apa yang terjadi mbah? Katanya ada perang antara PKI dan para santri waktu itu?” tanyaku.
“Iya, memang ada. Kami mendapatkan petunjuk dari para kyai bahwa ada sejumlah besar pasukan PKI akan menyerang Kediri. Akhirnya kami dan para santri lainnya berkumpul. Para pembesar Kyai dari Lirboyo pun kemudian berkumpul ikut serta. Bahkan dengan semangat para kyai maka kami pun yakin perbuatan kami benar yaitu kami sedang berjihad melawan PKI,” jawabnya. “Yang namanya Jihad, maka kalau saya mati maka saya mati Syahid.”
Wawancara itu pun kami hentikan setelah satu jam kemudian. Ini gila, pikirku. Aku tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Bagaimana bisa para santri tidak merasa berdosa sama sekali ketika membantai orang-orang seperti itu? Namun seperti yang dikatakan oleh Mbah Malik tadi, semuanya karena menganggap sedang dalam jihad fi sabilillah. Oleh sebab itulah maka apapun yang mereka lakukan akan dianggap berpahala.
Tepatnya aku dan Andika pulang seusai shalat dzuhur. Kami sempat dijamu makan siang di rumah Mbah Malik. Makanannya sederhana, sayur lodeh dan tempe goreng. Sekali pun telah menceritakan kengerian tentang masa lalunya, ternyata Mbah Malik itu orang yang menyenangkan. Beliau memang sudah tua tapi tenaganya masih perkasa. Aku diberikan sebuah foto tua berwarna hitam putih. Foto itu menunjukkan bagaimana Mbah Malik memegang kelewang. Ternyata beliau juga orangnya humoris dan ramah, sangat kontras dengan apa yang menjadi dugaanku bahwa seseorang yang pernah membunuh orang akan berbeda sikapnya.
*
*
*
Orang kedua yang aku temui adalah Masdoeqi Muslim. Sekarang dia tinggal di Kras, Kediri. Kras merupakan sebuah daerah dataran tinggi. Letaknya ada di sebelah barat kota Kediri, di kaki Gunung Wilis. Sekali lagi mobil kami melewati jalanan yang kini mulai panas. Untunglah AC mobil MPV yang kami kendarai cukup mengusir panasnya hari itu.
“Kediri makin panas mas, apalagi sekarang banyak mal di mana-mana,” ujar Andika. “Ibaratnya Kediri sekarang ini lebih kepada kota tempat orang-orang belanja. Lihat aja mal makin banyak bukannya makin sepi tapi makin ramai. Bahkan di alun-alun tadi sudah lihat bukan? Sebelahnya aja ada mal.”
“Aku masih ingat bagaimana dulu di alun-alun sering terjadi banjir ketika hujan sampai Kali Brantas meluap,” kenangku mengingat masa kecilku.
“Hahaha, iya mas. Tapi aku belum lahir,” kata Andika.
“Hahahaha, iya. Kamu belum lahir,” ucapku setuju.
Di radio terdengar musik pop yang mengalun. Hiburan itu cukup membuatku rileks selama perjalanan. Begitu kami memasuki gapura yang menunjukkan SELAMAT DATANG DI KRAS ponselku seketika itu berbunyi. Dari istriku. Ah, aku lupa ngasih kabar.
“Halo?” sapaku.
“Mas, sudah nyampe?” tanyanya.
“Iya, sudah. Maaf lupa ngasih kabar,” jawabku.
“Oh ya udah. Ini sama Si A'an?” tanya istriku.
“Iya nih, dia jadi sopir pribadiku sekarang,” jawabku lagi.
“Mbak, ingat lho ya ini dibayar. Kalau nggak dibayar aku nggak bakal mau nganterin,” kelakarnya.
Aku dan istriku tertawa mendengarnya. Setidaknya kami ada hiburan sebelum pergi ke orang yang perlu kami wawancarai setelah ini.
Rumah tempat Masdoeqi Moeslim ini tidak begitu besar. Paling tidak itulah pandanganku kalau dibandingkan dengan rumah-rumah sebelahnya. Di depan halaman rumahnya ada buah pepaya dan beberapa bunga yang ada di pot. Sebuah pohon mangga ada di pinggir halamannya dan dedaunannya sampai menjorok ke tempat tetangganya. Buah-buahnya berwarna merah kekuningan. Khas buah Mangga Podang yang mana bentuknya kecil-kecil.
“Assalaamu'alaykum?” sapa Andika.
“Wa'alaykum salam,” jawab seseorang dari dalam rumah.
Seorang lelaki menyambut kami. Dia kira-kira berusia kisaran 40 tahun. Begitu melihat kami dia langsung mengerti siapa kami.
“Ini pasti mas-mas yang mau mewawancarai,” tebaknya.
“Iya pak,” kataku.
“Masuk aja! Maaf lho ya, panas,” ujarnya.
“Nggak apa-apa koq pak,” ucapku.
“Mbah, ada tamu!” kata bapak-bapak ini.
Dari dalam rumah, muncullah seseorang lelaki tua. Dia memakai sarung dan kaos singlet. Mungkin karena cuaca panas. Aku bisa mengerti. Dia tersenyum ketika melihat kami berdua. Kemudian kami pun dipersilakan duduk.
Setelah berbasa-basi sebentar, beliau pun mulai menceritakan kronologis peristiwa yang dialaminya.
“Yang saya ingat waktu itu ya ngger sebelum Gestapu PKI emang bikin rusuh duluan. Mereka dan para santri bahkan punya dendam pribadi sejak lama. Dendam itu makin besar ketika adanya Gestapu. Tepatnya saya masih hafal tanggalnya. Tanggal 13 Januari 1965 di Kanigoro, saat itu saya beserta peserta pelajaran Pelatihan Mental Pelajar Islam Indonesia sedang membaca Al-Qur'an dan bersiap shalat subuh. Saat itulah kegaduhan terjadi. Kira-kira ada seribu orang anggota PKI datang, menghambur ke dalam masjid membawa berbagai macam senjata. Mereka dengan paksa mengambil Al-Qur'an kemudian measukkanya ke dalam karung, lalu dilempar ke halaman masjid dan menginjak-injaknya.
“Alasan mereka melakukan itu adalah karena apa yang terjadi pada akhir tahun 1964 ketika terjadi pembunuhan atas kader PKI yang ada di Jombang dan Madiun yang dilakukan oleh kader NU. Kata mereka, 'Utang Jombang dan Madiun dibayar di sini saja.'” jelas Masdoeqi sambil menirukan cara bicara mereka waktu itu.
Kemudian beliau melanjutkan, “Para santri pelatihan termasuk Kyai Jauhari ditodong senjata dan digiring ke kantor polisi. Mereka diancam dibunuh sambil dicaci maki. Sebenarnya antara PKI dan santri tidak pernah ada yang sampai konflik terbuka. Memang ketika berpapasan kami saling melotot, saling ejek. Tapi tidak sampai bentrok. Seperti api dalam sekam. Peristiwa di Kanigoro itulah yang menjadi puncaknya, yang membuat para santri dan anggota Anshor Kediri membantai anggota PKI. Terlebih setelah pemerintah mengatakan bahwa PKI adalah organisasi terlarang. Kami semakin yakin bahwa tindakan kami benar.”
“Anda kenal Pak Abdul Malik?” tanyaku.
“Iya, tentu saja. Kami waktu itu pernah dalam satu tempat untuk menjagal anggota PKI yang dieksekusi,” jawabnya.
“Anda juga ikut berperan di sana sebagai penjagal?” tanyaku lagi.
“Iya. Dan sebenarnya ada peristiwa yang sedikit membuat saya trenyuh. Dia membunuh saudaranya sendiri. Ironis sekali,” ujar Masdoeqi.
“Lho? Beliau tak pernah cerita tentang hal itu,” kataku.
“Tentu saja, siapa yang tega membunuh saudara sendiri? Tapi dia pun melakukannya. Dia tidak cerita mungkin ia tak ingin orang lain mengetahui apa yang dilakukannya,” jelas Masdoeqi. “Sebab dia masih punya hati dan menganggap perbuatannya sebagai dosa yang besar.”
“Bagaimana kejadiannya?”
“Waktu itu, ketika orang-orang diturunkan dari truk. Wajah mereka ditutup sehingga tak bisa melihat. Para tentara menyuruh mereka untuk diam. Mereka sudah seperti sapi-sapi yang siap untuk disembelih. Ada satu tawanan yang waktu itu bersuara. Kemudian Abdul Malik mengenali suaranya. Seketika itu juga Abdul Malik galau karena ternyata yang ada di situ adalah saudaranya sendiri. Tapi kemudian dengan tekad bulat ia pun menebas leher saudaranya sendiri lalu membuang mayatnya di Kali Brantas. Saat itu Abdul Malik memang sempat ragu sampai kemudian saudaranya sendiri bilang, 'Lakukan saja aku sudah siap!' Aku sendiri saat itu merinding, takut kalau-kalau anak atau saudaraku sendiri yang aku tebas lehernya.”
Mendadak suasana menjadi hening. Aku mengerti situasi seperti ini. Mungkin bagiku peristiwa seperti ini adalah peristiwa yang mau tak mau harus terjadi pada masa itu. Saat itu kondisi negara sedang dalam suasana kacau. Di mana orang-orang tak bisa menahan diri. Orang-orang yang tidak bersalah pun jadi korban.
Menurut data, korban dari penjagalan PKI mencapai lebih dari 1 juta jiwa. Itu yang baru bisa dihitung, padahal menurut laporan, banyak kuburan-kuburan masal yang tidak terhitung jumlahnya dari Sabang Sampai Marauke. Sebuah harga yang mahal untuk sebuah revolusi waktu itu.
Menemui dua orang narasumber membuatku mulai mencari tahu apa yang sebenarnya dicari oleh bangsa ini? Mereka sudah melewati berbagai pertumpahan darah dengan melawan penjajah hingga kemudian menjadi tumbal oleh segelintir orang yang haus akan kekuasaan.
Benar kata Pak Soekarno bahwa kita harus waspada kepada penjajahan gaya baru. Penjajahan yang tidak lagi menggunakan senjata untuk menguasai, namun menggunakan pemikiran. Perang pemikiran ini sangat halus, sekolah-sekolah bisa saja mengajarkan hal itu, kalau kita tak punya pondasi yang kuat, kita akan terjerumus ke sana.
Sayangnya waktuku tak banyak di Kediri ini. Aku masih ingin mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi waktu itu. Setelah kunjungan terakhir ke rumah Masdoeqi aku menuju ke sebuah masjid yang disebut di ceritanya. Masjid itu dulunya sebuah mushola kecil. Sekarang bentuknya sudah lebih baik dari waktu dulu mungkin. Bangunannya bercat kuning dengan sebuah kubah terbuat dari aluminium tampak membuatnya cukup indah. Aku sempatkan untuk shalat di sini setelah itu aku pulang ke rumah Andika.
*
*
*
Istirahat yang cukup di rumahnya Andika membuka kenanganku masa lalu ketika aku masih tinggal di kota tempat pabrik rokok terbesar di Indonesia ini berada. Dulu aku sering bermain di sawah tepat di depan rumah. Sekarang tak ada lagi. Dulu aku sering menarik tebu dari truk pengangkut tebu, sekarang kurasa anak-anak kecil sudah tidak melakukan itu lagi. Hanya beberapa anak kecil saja kulihat bermain layang-layang. Aku sempat ijin kepada budhe untuk kemudian pergi ke Jombang, tempat aku bertemu dengan narasumber terakhir.
Catatanku sudah lengkap. Kurangkum apa yang aku dengar kemarin dari dua narasumber. Sedangkan narasumber terakhir ini konon katanya menjadi saksi bahwa ia melihat sendiri bagaimana ratusan orang yang dituduh sebagai PKI dibunuh.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Dasuki di desa Mlancu. Desa ini berada di perbatasan Kediri-Jombang. Kenapa aku ke sini? Karena aku ingin membuktikan sendiri tulisan yang aku baca dari buku Palu Arit di Ladang Tebu. Dan narasumberku sendiri sudah pas.
Wajah Dasuki tampak sumringah melihat kami berdua. Setelah berbasa basi dan memperkenalkan diri kemudian dia mengajak kami ke sebuah tempat.
Ada sebuah tugu berwarna merah putih. Tugu peringatan. Kalau orang luar daerah yang melihat tugu tersebut akan menganggap tugu itu adalah tugu biasa. Namun, di balik dibangunnya tugu itu ada sesuatu peristiwa yang tersembunyi.
“Saat itu saya masih kecil. Sama seperti anak-anak lainnya mas. Di sini ada kejadian yang mengerikan. Waktu itu malam hari banyak yang ribut-ribut. Puluhan orang sudah bersiaga di sini beserta para tentara waktu itu. Sementara itu truk-truk terus berdatangan. Aku yang waktu siang hari bermain di luar rumah segera disuruh masuk oleh kedua orangtuaku. Orang-orang dewasa yang sudah terpilih mempersenjatai diri mereka dengan pedang, golong, kelewang. Aku tak tahu waktu itu apa yang mereka lakukan, hanya saja aku disuruh untuk tidak banyak bertanya. Pikiran anak kecil sepertiku yang ingin tahu tentu saja membuatku penasaran.
“Akhirnya malam itu saya mengendap-endap pergi dari rumah untuk mencari tahu apa sih yang terjadi. Dan di sini saya mengetahuinya. Orang-orang memakai penutup wajah dengan membawa senjata tajam. Sedangkan di depan mereka orang-orang terikat dengan kepala ditutup. Di antara mereka ada wanita juga ada lelaki. Saat itu saya terlalu gaduh sehingga segera ketahuan.
“Salah seorang dari mereka kemudian menyuruh saya untuk pulang. Akhirnya saya pun dipulangkan dari tempat ini. Orangtua saya marah besar waktu itu. Kalau saja saya tak ketahuan saya akan tahu apa yang terjadi malam itu. Yang saya lihat dengan penutup wajah seperti ninja adalah para algojo. Mereka yang bertugas menggorok leher orang-orang PKI. Paginya karena rasa penasaran saya pun keluar dari rumah dan pergi ke tempat itu.
“Bau anyir darah serta kolam darah tergenang di sana. Bahkan kaki kecil saya sampai tenggelam. Mayat tergeletak begitu saja dengan kepala mereka sudah terpisah dari badannya. Seketika itu kengerian langsung menyeruak ke dalam dada saya. Mengerikan.” jelasnya.
“Apa mayat-mayat itu tidak dikubur atau diambil keluarganya?” tanyaku.
“Nggak ada yang berani mas. Siapa yang mau berani mengambil mayat-mayat itu? Kalau ada yang berani maka mereka akan dicap sebagai keluarga PKI, bahkan mungkin akan jadi korban berikutnya. Alhasil selama beberapa hari bau busuk menyengat dari tempat ini. Kemudian atas inisiatif penduduk desa tempat ini pun dijadikan kuburan masal. Lubang tempat dikubur pun dibentuk dan mayat-mayat ditumpuk begitu saja. Untuk menandai lokasinya kemudian di sini dibangun tugu merah putih ini,” jelasnya lagi.
Tiba-tiba saja membayangkan hal itu perutku sedikit mual. Aku seolah bisa merasakan bagaimana rasanya jadi anak kecil pada waktu itu. Melihat kakinya tenggelam dalam darah. Aku jadi penasaran berapa orang-orang yang jadi korban waktu itu.
“Ada berapa orang yang dieksekusi waktu itu pak?” tanyaku.
“Ada 700-an, bahkan para algojo waktu itu mengaku kecapekan memenggal leher-leher mereka,” jawabnya. “Namun sekarang kuburan itu sudah dipindah. Kerangka mereka sudah dipindahkan ke sumur tua di hutan kakao di dekat sini.” Pak Dasuki menunjuk ke sebuah arah tempat hutan tersebut.
Jangan coba-coba, aku tak berani untuk melihat sumur itu. Andika kulihat sampai mengelus-elus tengkuknya, merinding. Kalau dulu aku pernah membaca berita tentang kuburan masal yang ada di Serbia, maka sekarang aku melihat sendiri peristiwa kuburan masal di negaraku.
*
*
*
Setelah tiga hari berada di Kediri akhirnya aku pun berangkat kembali ke Jakarta. Aku sudah mengirimkan artikelku ke redaksi. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana orang-orang akan bereaksi terhadap artikel yang aku tulis. Apakah reaksi mereka terkejut? Menghujat? Atau bagaimana?
Kepada siapakah kesalahan ini akan ditujukan? Apakah kepada rezim waktu itu? Ataukah kepada sempitnya pemikiran masyarakat waktu itu? Kita sudah dijajah berabad-abad oleh para kolonial. Waktu itu mungkin masih sedikit masyarakat yang mendalami pendidikan hingga tinggi. Kedua orangtuaku sendiri saja nggak sampai tamat SMP. Keadaan negara waktu itu juga sangat memungkinkan hal ini terjadi.
Sekarang yang menjadi PR bagi bangsa ini mungkin adalah bagaimana kejadian seperti ini tak akan terulang lagi? Pertumpahan darah seperti ini. Di negara yang dikenal sebagai negara seribu pulau yang mana kekayaan alamnya tak terbatas. Haruskah keindahan alamnya dicemari oleh darah anak bangsa sendiri?
Kitalah yang memutuskan dan menggerakkan bangsa ini mau dibawa kemana. Jakarta, 30 September 2011. Abdul Hakim. Laporanku selesai.
​ ​
The End~
submitted by Bosanpacaran to Sastrakita [link] [comments]


2019.05.20 22:01 contenidospyme ¿A dónde puedo viajar con el pasaporte mexicano sin visa?


El pasaporte mexicano es una identificación oficial que brinda a los mexicanos la facultad de salir del país y entrar a una cantidad importante de países sin la necesidad de tramitar una visa.
De acuerdo a la consultora internacional Henley & Partners, nuestro pasaporte es el 28 más poderoso del mundo de acuerdo con los 139 países a los que puede viajar sin necesidad de visa o tramitarla en el aeropuerto.
Para calificar, la consultora británica otorga puntos a los pasaportes por cada nación en la que permiten entrar sin visado u obtenerlo directamente al entrar, -entre más países pueda visitar, más alta es la calificación del pasaporte.
¿Cómo tramitar el pasaporte?
Se realiza en la Secretaría de Relaciones Exteriores, para ello es necesario llamar por teléfono y solicitar una cita o hacerlo directamente desde internet.
Posteriormente, se tiene que llenar una forma descargable en línea con datos muy básicos como nombre y curp, y asistir a un banco a cobrarlo.
Cabe mencionar que existen diferentes modalidades para tramitar el pasaporte:
Por un año: 610 pesos (modalidad disponible sólo para menores de 3 años).
Por tres años: 1265 pesos.
Por seis años: 1735 pesos.
Por diez años: 2670 pesos.
Una vez que el pasaporte haya sido aprobado, se entrega en un lapso de dos semanas aproximadamente.
Países a los que se puede entrar sin visa:
Estos son los 92 países a los que pueden viajar los mexicanos sin visa, de acuerdo con la Secretaría de Relaciones Exteriores:
Albania, Alemania, Andorra, Antigua y Barbuda, Argentina, Austria, Bahamas, Barbados, Bélgica, Belice, Bolivia, Bosnia y Herzegovina, Botswana, Brasil, Bulgaria, Chile, Chipre, Colombia, Corea del Sur, Costa Rica, Croacia, Dinamarca, Dominica, Ecuador, El Salvador, Eslovaquia, Eslovenia, España, Estonia, Filipinas, Finlandia, Francia, Georgia, Granada, Grecia, Guatemala, Haití, Holanda, Honduras, Hong Kong, Hungría, Indonesia, Irlanda, Islandia, Israel, Italia, Jamaica, Japón, Letonia, Liechtenstein, Lituania, Luxemburgo, Macedonia, Malasia, Malta, Marruecos, Mauricio, Micronesia, Mónaco, Montenegro, Nauru, Nicaragua, Noruega, Nueva Zelanda, Palestina, Panamá, Paraguay, Perú, Polonia, Portugal, Reino Unido, República Checa, República Dominicana, Rumania, Saharaui, San Cristóbal y Nieves, Samoa, San Marino, San Vicente y las Granadinas, Santa Lucía, Santa Sede, Serbia, Seychelles, Singapur, Suecia, Suiza, Timor-Leste, Trinidad y Tobago, Túnez, Uruguay, Vanuatu y Venezuela.
En el caso de otros países, como por ejemplo, si usted desea hacer un Tour a Tierra Santa puede tramitar un permiso desde el aeropuerto que le permitirá viajar legalmente por el país por 60 días.
Puedes consultar la lista completa aquí: https://www.passportindex.org/byRank.php
submitted by contenidospyme to u/contenidospyme [link] [comments]


2016.05.24 15:28 ShaunaDorothy Las "reformas de mercado" en China: Un análisis trotskista ¡Defender al estado obrero deformado chino! ¡Por la revolución política proletaria! (1 - 2) (Primavera de 2007)

https://archive.is/mnbfW
Espartaco No. 27 Primavera de 2007
Las "reformas de mercado" en China: Un análisis trotskista
¡Defender al estado obrero deformado chino! ¡Por la revolución política proletaria!
El siguiente artículo ha sido traducido de Workers Vanguard Nos. 874 y 875 (4 de agosto y 1º de septiembre de 2006), periódico de nuestros camaradas de la Spartacist League/U.S.
Hace dos años, dos intelectuales estadounidenses de izquierda, Martin Hart-Landsberg y Paul Burkett, produjeron una severa y amplia condena a la economía china de la era de “reformas” desde una perspectiva supuestamente marxista. Su artículo, “China y el socialismo: Reformas de mercado y lucha de clases”, fue publicado originalmente en Monthly Review (julio-agosto de 2004) y subsecuentemente publicado como libro. En particular, los autores se dirigen a los intelectuales “progresistas” que consideran a China un modelo exitoso de desarrollo económico alternativo a las “reformas estructurales” del neoliberalismo, dictadas por el imperialismo estadounidense y el Fondo Monetario Internacional, que han devastado a muchos países subdesarrollados. Hart-Landsberg y Burkett escriben: “No sólo discrepamos con los progresistas que ven en China un modelo de desarrollo (sea socialista o no); pensamos que el proceso por el cual llegaron a esta posición subraya un problema aún más serio: el rechazo general del marxismo por la comunidad progresista.”
Entre los “progresistas” con quienes discrepan está Victor Lippit, quien, con sus copensadores en Critical Asian Studies (37:3 [2005]), respondió con algunos estudios críticos de “China y el socialismo”. A su vez, Hart-Landsberg y Burkett escribieron una larga réplica (Critical Asian Studies 37:4 [2005]).
Lippit, un político liberal que por mucho tiempo ha estudiado la economía china, es básicamente un partidario del programa de “reformas” orientadas al mercado, aunque con algunas críticas de izquierda. Por ejemplo, lamenta el deterioro en los sistemas de salud pública, especialmente en el campo, como “vergonzoso”. Para él, el régimen de Beijing debería gastar muchos más recursos en el cuidado de la salud, la educación y el mejoramiento de las condiciones de la población rural, incluso a costa de la reducción, por corto tiempo, del crecimiento económico como se mide convencionalmente. No obstante, Lippit es definitivamente un optimista sobre China; cita un estudio de Goldman Sachs, un banco inversionista de Wall Street, que proyecta que el producto interno bruto de China habrá sobrepasado al de Estados Unidos para 2041.
A pesar de sus diferencias, Hart-Landsberg y Burkett por un lado y Lippit por el otro comparten ciertas premisas básicas. Todos mantienen equivocadamente que las “reformas” orientadas al mercado han tenido como resultado la restauración del capitalismo en China y además que esto era inevitable. Para Lippit, la modernización de China requiere una continuación e incluso una integración cada vez mayor al sistema capitalista mundial. Él sostiene que “el capitalismo tendrá que haber concluido su papel histórico antes de que éste pueda ser suplantado”, agregando que “el capitalismo de estado benefactor del tipo de la Europa continental puede ser lo mejor que puede hacerse en el presente”. Para Hart-Landsberg y Burkett, un programa socialista en China o donde sea —el cuál identifican con la fórmula confusionista de una “economía centrada en los trabajadores y la comunidad”— debe tener poco o nada de comercio con los males corruptores del mercado capitalista mundial.
De manera más crucial, todos rechazan la posibilidad de revoluciones socialistas proletarias en los países capitalistas avanzados en cualquier periodo de tiempo históricamente significativo. Lippit lo hace explícitamente, Hart-Landsberg y Burkett implícitamente. Por tanto, la perspectiva trotskista de la modernización de China en el contexto de una economía socialista integrada y planificada a escala mundial está fuera de las fronteras conceptuales de estos protagonistas. Pero este marco, la antítesis del dogma nacionalista maoísta-estalinista de construir el “socialismo en un solo país”, es el único camino para la completa liberación de los trabajadores y las masas campesinas de China.
China hoy: Mitos y realidades
El gobernante Partido Comunista Chino (PCCh) bajo Deng Xiaoping introdujo su programa de reformas orientadas al mercado pocos años después de la muerte de Mao Zedong en 1976. Esto incluyó abrir a China a un enorme volumen de inversión directa de capital concentrado en la manufactura, que subsecuentemente atrajo, por parte de corporaciones occidentales y japonesas y de la burguesía China de ultramar. Los ideólogos burgueses convencionales han señalado el impresionante crecimiento económico de China, especialmente industrial, como prueba positiva de la superioridad de un sistema impulsado por el mercado sobre una economía centralmente planificada y colectivizada (despectivamente llamada “economía comandada” socialista). Por su parte, Lippit es representante de una capa de intelectuales de centro-izquierda que sostienen que China es un excelente ejemplo de una estrategia económica antineoliberal exitosa, basada en un nivel significativo de propiedad estatal y sobre todo en la dirección estatal de la economía.
Esta última perspectiva tiene el mérito de reconocer, a su manera, que los elementos centrales de la economía china, establecida después del derrocamiento del sistema capitalista con la Revolución de 1949, permanecen colectivizados. Las empresas estatales son dominantes en el sector estratégico industrial, tal como el acero, metales no ferrosos, maquinaria pesada, telecomunicaciones, energía eléctrica y refinación y extracción de petróleo. La nacionalización de la tierra ha impedido el surgimiento de una clase de capitalistas agrarios a gran escala que dominen socialmente al campo. El volumen de superávit económico generado fuera del sector de propiedad extranjera es canalizado tanto a los bancos estatales como a la tesorería gubernamental. El control efectivo del sistema financiero ha permitido hasta ahora al régimen de Beijing proteger a China de los movimientos volátiles del capital monetario especulativo que periódicamente causan grandes estragos en los países capitalistas neocoloniales desde el este de Asia hasta América Latina.
Ahora es un lugar común a través de todo el espectro político y geográfico, desde los voceros del régimen del PCCh hasta los analistas de Wall Street, proclamar que China ha avanzado mucho en el camino para convertirse en una “superpotencia” económica mundial hacia la mitad del siglo XXI. Esta perspectiva ignora la vulnerabilidad económica de China en sus relaciones con el mercado capitalista mundial. Ignora la implacable hostilidad de la burguesía imperialista, sobre todo de la clase gobernante estadounidense, hacia la República Popular China, un estado obrero burocráticamente deformado resultado de la Revolución de 1949. Es más, ignora la inestabilidad interna de la sociedad china, la cual ha visto un significativo y creciente nivel de protestas sociales contra las consecuencias del mal gobierno burocrático del PCCh.
En los últimos años, la estrategia económica seguida por el régimen del PCCh ha sido diseñada para lograr un enorme superávit en la balanza comercial con Estados Unidos, lo cual ha llevado a China a ser el más grande poseedor de reservas de divisas extranjeras en el mundo. Esto ha generado crecientes presiones por un proteccionismo económico antichino en los círculos gobernantes estadounidenses. En cualquier caso, tan solo el tamaño del déficit comercial con China será insostenible. Un mayor declive económico en Estados Unidos y/o medidas proteccionistas antiimportación significarían un severo golpe a la economía industrial china. Operaciones de propiedad extranjera y de propiedad conjunta y compañías privadas chinas, así como algunas empresas estatales cuya producción está orientada al mercado de exportación, serían forzadas a llevar a cabo grandes recortes de producción y despidos tanto de obreros industriales como de empleados de oficina. Esto tendría un fuerte efecto depresivo en toda la economía china.
Recientemente, China ha empezado a abrir parcialmente sus bancos a la propiedad extranjera. Si los banqueros de Wall Street, Frankfurt y Tokio adquieren un grado significativo de control sobre el sector financiero chino, los efectos económicos serán probablemente terribles. Algunas empresas estatales grandes con amplias deudas podrían ser forzadas a disminuir la producción y recortar las nóminas. Incluso podría haber un peligro real de una inesperada y masiva retirada de capital monetario, tal como la que provocó la crisis financiera y económica en el este asiático a finales de la década de 1990.
Según la opinión pública burguesa convencional, el capitalismo ya ha sido restaurado en China o está siendo rápida e irreversiblemente restaurado. Sin embargo, como fue el caso de la antigua Unión Soviética, la arena decisiva en la cual una contrarrevolución capitalista tendría que triunfar es al nivel político, en la conquista del poder estatal, no simplemente mediante una extensión cuantitativa del sector privado, ya sea doméstico o extranjero. A su propia manera, la burguesía imperialista, en especial la clase dominante estadounidense, entiende muy bien lo anterior. De ahí el abierto respaldo de los gobiernos de Estados Unidos e Inglaterra hacia los partidos y fuerzas agresivamente anticomunistas en el enclave capitalista de Hong Kong, una antigua colonia británica que es la única parte de la República Popular China (excepto Macao) donde el PCCh no ejerce el monopolio del poder y organización políticos. Por ende, también los gobernantes de Estados Unidos insisten en la necesidad de una “liberación política” en China.
Aspirando a repetir la destrucción contrarrevolucionaria de la Unión Soviética en 1991-92, los imperialistas quieren promover una oposición política anticomunista en China, basada principalmente en la nueva clase de empresarios capitalistas y los elementos entre los funcionarios del PCCh y el estrato de gerentes-profesionistas-tecnócratas atados estrechamente al capital nacional y extranjero.
Al mismo tiempo, el imperialismo estadounidense ha estado incrementando la presión militar sobre China, construyendo bases en Asia Central, intentando rodear a China con instalaciones militares y estableciendo un pacto con Japón el año pasado para defender el bastión capitalista de Taiwán, cuya burguesía sostiene considerables inversiones en la China continental. El Pentágono está tratando de llevar a cabo una estrategia abiertamente anunciada por la pandilla de Bush en Washington para neutralizar el pequeño arsenal nuclear de China en caso de un primer ataque nuclear estadounidense. Como trotskistas, estamos por la defensa militar incondicional de China y los estados obreros burocráticamente deformados restantes —Corea del Norte, Vietnam y Cuba— ante un ataque imperialista y la contrarrevolución capitalista. En particular, apoyamos las pruebas y posesión de armas nucleares de China y Corea del Norte, como una medida disuasiva necesaria contra un chantaje nuclear imperialista.
A pesar y en parte debido a su rápido crecimiento económico y especialmente industrial, China ha llegado a ser una caldera hirviente de descontento popular. Un enorme y estratégicamente poderoso proletariado industrial enfrenta a una sociedad de absoluta y creciente inequidad y desigualdad. Como parte de sus reformas orientadas al mercado, el régimen estalinista de Beijing ha dejado sin recursos financieros al servicio de salud pública y la educación primaria, cuando, más que nunca antes, tales recursos están disponibles para solventar las necesidades básicas del pueblo trabajador chino. Han ocurrido extensas y continuas protestas obreras contra despidos en empresas estatales, por salarios, pensiones y otras prestaciones no pagadas, y abusos similares. Furiosas protestas de campesinos son muy comunes en el campo, y frecuentemente incluyen enfrentamientos violentos con la policía, contra la toma de tierras por parte de funcionarios locales del PCCh dedicados a la especulación inmobiliaria.
La burocracia gobernante está claramente dividida entre los elementos que quieren que las “reformas” económicas continúen sin perder intensidad, y los que quieren más intervención estatal para frenar los estragos de la mercantilización y, por lo tanto, contener el descontento, y otros que procuran regresar a la economía burocráticamente planificada. En algún punto, probablemente cuando los elementos burgueses de dentro y alrededor de la burocracia se movilicen para eliminar el poder político del PCCh, las múltiples tensiones sociales explosivas de la sociedad china harán estallar en pedazos la estructura política de la casta burocrática gobernante. Y cuando eso pase, el destino del país más poblado de la Tierra será planteado agudamente: ya sea por una revolución política proletaria que abra el camino al socialismo o el regreso a la esclavitud capitalista y la subyugación imperialista.
Nosotros estamos por una revolución política proletaria que barra con la opresiva y parasitaria burocracia estalinista y la remplace con un gobierno basado en consejos de obreros y campesinos democráticamente electos. Tal gobierno, bajo la dirección de un partido leninista-trotskista, restablecería una economía centralmente planificada y administrada —incluyendo el monopolio estatal del comercio exterior— no por el arbitrario “comandismo” de una casta burocrática excluyente (que ha producido desastres tales como el del “Gran Salto Adelante” de Mao a finales de los años 50), sino por la más amplia democracia proletaria. Este gobierno expropiaría a la recién surgida clase de empresarios capitalistas chinos y renegociaría los términos de la inversión extranjera según los intereses de la población obrera china, insistiendo, por ejemplo, en mantener las condiciones de los trabajadores por lo menos al mismo nivel que en el sector estatal. Un gobierno obrero revolucionario en China promovería la colectivización voluntaria de la agricultura sobre la base del cultivo mecanizado y científico a gran escala, reconociendo que esto requiere ayuda material sustancial de revoluciones obreras exitosas en los países económicamente más avanzados.
Una revolución política proletaria en China alzando la bandera del internacionalismo socialista sacudiría en verdad al mundo. Haría añicos el clima ideológico de la “muerte del comunismo” propagado por las clases gobernantes imperialistas desde la destrucción de la Unión Soviética. Radicalizaría al proletariado de Japón, la fuerza industrial y el amo imperialista del este asiático. Provocaría una lucha por la reunificación revolucionaria de Corea —mediante una revolución política en la asediada Corea del Norte y una revolución socialista en la Corea del Sur capitalista— y reverberaría entre las masas del sur de Asia, Indonesia y las Filipinas, subyugadas por la austeridad imperialista. Sólo mediante el derrocamiento del dominio de la clase capitalista internacionalmente, particularmente en los centros imperialistas de América del Norte, Europa Occidental y Japón, puede conseguirse la completa modernización de China como parte de un Asia socialista. Es con el fin de proporcionar la dirección necesaria del proletariado en estas luchas que la Liga Comunista Internacional lucha por reforjar la IV Internacional de Trotsky, el partido mundial de la revolución socialista.
El desarrollo económico y la perspectiva mundial comunista
La diferencia entre Hart-Landsberg y Burkett por un lado y Lippit por el otro no es fundamentalmente sobre una evaluación empírica de las condiciones socioeconómicas cambiantes en China durante el pasado cuarto de siglo de la era de “reformas”. Por supuesto que tienen diferencias importantes al respecto —por ejemplo, sobre en qué medida cuantitativa se ha superado la pobreza—. Pero lo que básicamente separa a Hart-Landsberg y Burkett de Lippit es lo que podría nombrarse una jerarquía de valores diferente. Los primeros elevan los antiguos valores de igualdad y comunalidad por encima de la expansión de las fuerzas productivas, ignorando que esto último es una condición necesaria para la liberación de la mayoría de la humanidad de la escasez y el trabajo penoso. Así, argumentan en su réplica: “El éxito de China según los criterios de desarrollo estándares (crecimiento económico, afluencias de inversión extranjera directa y exportaciones), lejos de crear las condiciones para el éxito real o potencial en lo referente al bienestar humano, pudo haber minado, en cambio, las condiciones del desarrollo humano para la mayoría de la población trabajadora china.”
No menos que Lippit, o incluso que los partidarios del neoliberalismo, Hart-Landsberg y Burkett creen que el capitalismo en su presente forma “globalizada” se ve forzado a maximizar el crecimiento económico medido a través del incremento de los bienes y servicios. Esto es directamente contrario al entendimiento marxista de que el modo de producción capitalista y el sistema estado-nación, los cuales están enraizados en el impulso por la acumulación privada de ganancias, detienen el desarrollo progresista de las fuerzas productivas a escala mundial. Un ejemplo es el profundo y creciente empobrecimiento de las masas del África semicolonial, América Latina y partes de Asia.
Escribiendo a principios de los años 30 en el contexto de la depresión económica mundial y el resurgimiento de las rivalidades interimperialistas que pronto llevaron a la Segunda Guerra Mundial, León Trotsky explicó:
“El capitalismo se ha sobrevivido a sí mismo como sistema mundial. Ha dejado de cumplir su misión esencial, el incremento del poder y el bienestar humano. La humanidad no puede permanecer en el nivel que ha alcanzado. Sólo un poderoso incremento en las fuerzas productivas y una organización de la producción y la distribución racional y planificada, esto es, socialista, puede asegurar a la humanidad —a toda la humanidad— un nivel de vida decente y al mismo tiempo darle el precioso sentimiento de libertad con respecto a su propia economía. Libertad en dos sentidos —primero que nada, el hombre no estará más obligado a dedicar la mayor parte de su vida al trabajo físico. Segundo, ya no será más dependiente de las leyes del mercado…
“La tecnología liberó al hombre de la tiranía de los viejos elementos —tierra, agua, fuego y aire— sólo para sujetarlo a su propia tiranía. El hombre dejó de ser un esclavo de la naturaleza para convertirse en un esclavo de la máquina, y todavía peor, un esclavo de la oferta y la demanda. La actual crisis mundial testifica de manera especialmente trágica cómo el hombre, que se sumerge al fondo del océano, que se eleva a la estratosfera, que conversa a través de ondas invisibles con las antípodas, cómo este orgulloso y osado gobernante de la naturaleza permanece siendo esclavo de las fuerzas ciegas de su propia economía. La tarea histórica de nuestra época consiste en remplazar el incontrolable papel del mercado por la planeación razonable, disciplinando las fuerzas de la producción, obligándolas a trabajar juntas en armonía y obedientemente para servir a las necesidades de la humanidad. Sólo sobre esta nueva base social el hombre será capaz de estirar sus cansados miembros y —todo hombre y toda mujer, no sólo unos pocos seleccionados— convertirse en un ciudadano completo en el reino del pensamiento.”
—“En defensa de la Revolución Rusa” (1932), reimpreso en Leon Trotsky Speaks [Discursos de León Trotsky] (1972)
Esta genuina visión marxista del futuro es completamente ajena al pensamiento de Hart-Landsberg y Burkett.
Panaceas anarco-populistas...
Lo que Hart-Landsberg y Burkett contraponen al neoliberalismo es la noción de una “economía centrada en los trabajadores y la comunidad”. Tanto el término como el concepto son totalmente ajenos al marxismo. “Comunidad” es un término convencional burgués que sirve para oscurecer las divisiones de clase y los conflictos de intereses en la sociedad. Aplicada en particular a China, la noción de una “economía centrada en los trabajadores y la comunidad” oscurece la diferencia de clases entre los trabajadores y los campesinos. El último es un estrato pequeñoburgués cuyos ingresos se derivan de la propiedad y venta de bienes. Los campesinos tienen un interés material en que los productos comestibles y otros productos agrícolas que ellos venden tengan precios altos en comparación con los precios de los bienes manufacturados que deben comprar tanto para la producción (por ejemplo, fertilizantes químicos, equipo de cultivo) como para el consumo personal. Además, el interés de los campesinos por los precios altos en los productos comestibles no es eliminado mediante la transformación de las parcelas familiares en colectivos agrícolas. El ingreso para los miembros de los colectivos sigue dependiendo en gran medida de los precios que reciben al vender su producción, ya sea a una agencia gubernamental de aprovisionamiento o en el mercado privado.
A pesar de declararse marxistas, la perspectiva de Hart-Landsberg y Burkett equivale a una forma de anarco-populismo. Su noción de una “economía centrada en los trabajadores y la comunidad” tiene una afinidad con el clásico programa de una federación de comunas políticamente autónomas y en gran medida económicamente autosuficientes asociado con el aventurero anarquista Mijaíl Bakunin en el siglo XIX. Esto puede observarse en la naturaleza de su crítica a la economía china durante la era de Mao, al sostener que la sobrecentralización de la economía fue ineficiente y, de manera más importante, al identificar implícitamente una economía centralmente planificada con control político autoritario:
“La planificación económica se había vuelto sobrecentralizada y, conforme la economía se volvía más compleja, incapaz de responder efectiva y eficientemente a las necesidades de la gente...
“Había una necesidad crítica de construir sobre la solidez de los logros obtenidos por China en el pasado y de conferir poder a los obreros y campesinos para crear nuevas estructuras de toma de decisión y planificación. Entre otras cosas, esto implicaba una reestructuración y descentralización de la economía y de la toma de decisiones por parte del estado para aumentar el control directo de los productores asociados sobre las condiciones y productos de su trabajo.”
Hart-Landsberg y Burkett condenan las crecientes desigualdades generadas por el programa de “reformas” orientadas al mercado. No obstante, lograr un nivel uniforme de salarios y prestaciones en todas las diferentes empresas, industrias y regiones necesariamente requiere una economía centralmente administrada. Solamente un sistema así es capaz de redistribuir los recursos económicos de las empresas, industrias y regiones más productivas hacia las menos productivas.
En las aproximadamente 150 páginas de “China y el socialismo” y la réplica a Lippit y otros, Hart-Landsberg y Burkett no explican cómo una “economía centrada en los trabajadores y la comunidad” funcionaría en los hechos. La mayor parte del tiempo usan esa formulación como un mantra para espantar a los males del neoliberalismo. En algún momento dan como un ejemplo hipotético “la creación de un sistema nacional de salud”, explicando que:
“esto requeriría desarrollar una industria de la construcción para edificar clínicas y hospitales, una industria farmacéutica para tratar enfermedades, una industria de máquinas-herramientas para hacer equipo, una industria de programas de computación para llevar un registro y un sistema educativo para entrenar doctores y enfermeras, etc., todo determinado por el desarrollo de las necesidades y capacidades de la población a los niveles local, nacional y regional.”
En ningún lugar mencionan las instituciones políticas y mecanismos económicos estructurales necesarios para lograr esta loable tarea. ¿Cómo se determinaría la fracción del total de recursos económicos disponibles a gastar en el sistema de salud, y no en otras necesidades tales como la inversión en la expansión industrial y la infraestructura, defensa militar, educación, pensiones, etc.? La coordinación de actividades económicas diferentes (por ejemplo construcción, equipo médico, programas de computación) para desarrollar el sistema de salud requeriría una planificación y administración centralizada. Tal sistema es totalmente compatible con la participación democrática activa de los trabajadores en el lugar de producción, por ejemplo, aconsejando sobre el mejor uso de la tecnología, estableciendo y reforzando estándares seguros, manteniendo una disciplina laboral y cosas por el estilo. La división del total de los recursos económicos entre necesidades contendientes debería ser debatida y decidida en el nivel más alto de un gobierno basado en la democracia proletaria, es decir, un gobierno de consejos obreros y campesinos. La democracia proletaria es esencial para el funcionamiento racional de una economía planificada.
http://www.icl-fi.org/espanol/eo/27/china.html
submitted by ShaunaDorothy to Espartaco [link] [comments]


2016.01.07 20:35 Confidencial LAS MAFIAS IMPERIALISTAS FALSIFICAN EL ISLAM

Desde el principio de ésta religión como de otras, las mafias opresivas han falsificado la creencia de las religiones que han sido constituidas con el fin de liberar la humanidad de la esclavitud y la opresión impuesta por el imperialismo opresor, también para evitar las peleas y muertes entre los humanos. Esto ha sucedido con las orientales, pero también con las occidentales como la judaica, la cristiana y la Islámica. Cambiando la fe han conseguido someter a la humanidad bajo el yugo de los opresores, creando confusión, división, fanatismo, esclavitud, enfrentamientos y guerras. Todo lo contrario para lo que han sido creadas.
Actualmente hablan de unir todas las religiones, pero es para que sigan al servicio del imperialismo y no se liberen, si verdaderamente quieren unirlas solo tienen que volver a los principios eliminando todas las mentiras que han introducido y ponerlas al servicio de la paz, de la verdadera justicia social, de las clases más desfavorecidas y de los derechos humanos que han sido para lo que han sido creadas y no usarlas para seguir utilizándolas para servicio de hombres opresores, creando división, manipulación, esclavitud y enfrentamiento.
Este es el ejemplo de una de las más grandes y más recientes.
LA HISTORIA DEL ISLAM
Islam... el camino a Dios por sumisión
[Arte: caracteres árabes]
 ¡“En el nombre de Dios [árabe: Allah, Alá], el Compasivo, el Misericordioso!” Esa es la traducción del versículo del Corán citado arriba. Después vienen las siguientes expresiones: “Alabado sea Dios, Señor del universo, el Compasivo, el Misericordioso, Soberano del día del Juicio. A Ti solo servimos y a Ti solo imploramos ayuda. Dirígenos por la vía recta, la vía de los que Tú has agraciado, no de los que han incurrido en la ira, ni de los extraviados” (El Corán, sura 1:1-7). 
2 Estas palabras forman al-Fátihah (el “Exordio”; literalmente: “La que abre”), el primer capítulo o sura del libro sagrado musulmán, el Corán. Puesto que de cada seis personas de la población del mundo más de una es musulmana, y los musulmanes devotos repiten estos versículos por lo menos cinco veces en sus oraciones diarias, estas palabras tienen que estar entre las más recitadas de la Tierra.
3 Según una fuente, hay más de 900.000.000 de musulmanes en el mundo, lo cual hace que solo la cristiandad sobrepase al islam en la cantidad de miembros. Quizás sea la religión de más rápido crecimiento entre las principales del mundo, una que sigue extendiéndose en África y en el mundo occidental.
4 El nombre islam es significativo para el musulmán, porque quiere decir “sumisión”, “sometimiento” o “rendición” a Alá [Dios]. Según un historiador, “expresa la actitud más íntima de los que han escuchado la predicación de Mahoma”. “Musulmán” significa ‘uno que cumple o practica islam’.
5 Los musulmanes creen que su fe es la culminación de las revelaciones dadas a los hebreos y cristianos fieles de la antigüedad. Sin embargo, sus enseñanzas difieren de las de la Biblia en algunos puntos, aunque en el Corán hay referencias tanto a las Escrituras Hebreas como a las Escrituras Griegas. Para entender mejor la fe musulmana tenemos que saber cómo, dónde y cuándo empezó.
“Corán” o “Alcorán” significa “Recitación”. Debe señalarse que el idioma original del Corán es el árabe. A menos que se indique lo contrario, las citas que damos aquí están tomadas de la traducción del Corán al español por Julio Cortés; el primer número representa el capítulo o sura (azora), y el segundo es el número del versículo o aleya.
El Corán y la Biblia
“Él te ha revelado la Escritura con la Verdad, en confirmación de los mensajes anteriores. Él ha revelado la Tora [Los cinco libros de Moisés] y el Evangelio antes, como dirección para los hombres, y ha revelado el Criterio.”—Sura 3:3, 4.
“Casi todas las narraciones históricas del Corán tienen sus paralelos bíblicos. Entre los personajes del Antiguo Testamento figuran prominentemente Adán, Noé, Abrahán (mencionado unas 70 veces en 25 diferentes suras, con su nombre como título para el sura 14), Ismael, Lot, José (a quien se dedica el sura 12), Moisés (cuyo nombre aparece en 34 diferentes suras), Saúl, David, Salomón, Elías, Job y Jonás (cuyo nombre lleva el sura 10). La historia de la creación y caída de Adán se menciona cinco veces; el diluvio, ocho; y Sodoma, ocho. En realidad, el Corán manifiesta más paralelismo con el Pentateuco [los cinco libros de Moisés] que con cualquier otra parte de la Biblia.
”De los personajes del Nuevo Testamento solo se hace referencia a Zacarías, Juan el Bautista, Jesús (Isa) y María. ”Un estudio comparado de las narraciones coránicas y bíblicas, no revela ninguna dependencia verbal [ninguna cita directa].”—History of the Arabs (Historia de los árabes).
Sin embargo, véase el párrafo 30, sobre Sura 21:105.
Mahoma recibe su llamamiento
6 Mahoma (Muhammad) nació en La Meca (árabe: Makkah), Arabia Saudí, alrededor de 570 Era Cristiana. Su padre, Abdallah, murió antes de que Mahoma naciera. Su madre, Amina, murió cuando Mahoma tenía unos seis años de edad. En aquel tiempo los árabes practicaban una forma de adoración de Alá que tenía como centro el valle de La Meca, en el lugar sagrado de la Caaba, un edificio sencillo de forma cúbica donde se veneraba un meteorito negro. Según la tradición islámica, “la Caaba fue construida originalmente por Adán en conformidad con un prototipo celestial y después del Diluvio fue reconstruida por Abrahán e Ismael” (History of the Arabs [Historia de los árabes], por Philip K. Hitti). Llegó a ser un santuario donde había 360 ídolos, uno por cada día del año lunar.
7 Mientras crecía, Mahoma puso en tela de juicio las prácticas religiosas de su tiempo. John Noss, en su libro Man’s Religions (Las religiones del hombre), dice: “A [Mahoma] le perturbaban las riñas incesantes en beneficio declarado de la religión y del honor entre los jefes de la tribu quraysí [Mahoma pertenecía a esta tribu]. Estaba menos satisfecho aún con los elementos sobrevivientes de la religión árabe antigua, el politeísmo y el animismo idolátricos, la inmoralidad en las convocaciones y ferias religiosas, el beber, el jugar por dinero y bailar que eran la costumbre acepta, y el enterrar vivas como indeseables a las recién nacidas, algo que no solo se practicaba en La Meca, sino en toda Arabia”. (Sura 6:137.)
8 Mahoma recibió el llamamiento para ser profeta cuando tenía unos 40 años. Él acostumbraba ir solo a una gruta cercana —llamada la caverna Hira— para meditar, y afirmó que en una de aquellas ocasiones se le llamó a la obra de profeta. La tradición musulmana dice que, mientras estaba allí, un ángel que después fue identificado como Gabriel le ordenó que recitara en el nombre de Alá. Mahoma no respondió, de modo que el ángel ‘lo asió enérgicamente y apretó tanto que Mahoma no podía soportarlo’. Entonces el ángel repitió el mandato. De nuevo Mahoma no respondió, de modo que el ángel ‘le apretó la garganta’ de nuevo. Esto ocurrió tres veces antes de que Mahoma empezara a recitar lo que llegó a considerarse la primera de una serie de revelaciones de que está hecho el Corán. Otra tradición cuenta que la inspiración divina le fue revelada a Mahoma como el tañido de una campana (The Book of Revelation [El libro de la revelación] de Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī).
Revelación del Corán 9 ¿Cuál se dice que fue la primera revelación que recibió Mahoma? Las autoridades islámicas por lo general concuerdan en que esta consistió en los primeros cinco versículos del sura 96, que dicen en la traducción de Rafael Cansinos Asséns del Corán, bajo el título de “El coágulo (Al-Alak)”:
“¡En el nombre de Alá, el piadoso, el apiadable! Lee el nombre de tu Señor, que creó: Creó al hombre de un coágulo de sangre. Lee; y tu Señor (es) el más generoso. Que te enseñó la caña. Enseñó al hombre lo que no sabía”.
10 Según la fuente árabe The Book of Revelation, Mahoma contestó: “No sé leer”. Por lo tanto, tuvo que aprenderse de memoria las revelaciones para poder repetirlas y recitarlas. Los árabes eran diestros en el uso de la memoria, y por eso esto no fue difícil para Mahoma. ¿Cuánto tiempo le tomó recibir todo el mensaje del Corán? Por lo general se cree que las revelaciones le vinieron durante un período de unos 20 a 23 años, desde aproximadamente 610 E.C. hasta su muerte en 632 E.C.
11 Varias fuentes musulmanas explican que tan pronto como Mahoma recibía cada revelación la recitaba a los que por casualidad se hallaban cerca. Estos, a su vez, se aprendían de memoria lo revelado y lo mantenían vivo por recitación. Puesto que entre los árabes era desconocida la fabricación del papel, Mahoma hizo que unos escribas pusieran por escrito las revelaciones en los materiales primitivos entonces disponibles para ello, como omóplatos de camellos, hojas de palmera, madera y pergamino. Sin embargo, no fue sino hasta después de la muerte del profeta cuando el Corán adquirió su forma actual, bajo la guía de los sucesores y compañeros de Mahoma. Esto sucedió durante la gobernación de los primeros tres califas o líderes musulmanes.
12 El traductor Muhammad Pickthall escribe: “Todos los suras del Corán se habían puesto por escrito antes de la muerte del Profeta, y muchos musulmanes se habían aprendido de memoria todo el Corán. Pero los suras escritos estaban esparcidos entre la gente; y cuando en una batalla murieron muchos de los que sabían de memoria todo el Corán, se hizo una colección de todo el Corán y se puso por escrito”.
13 La vida islámica está gobernada por tres autoridades: el Corán, la Hadiz y la Sharia. Los musulmanes creen que el Corán en árabe es la forma más pura de la revelación, porque dicen que el árabe fue el idioma que Dios usó al hablar mediante Gabriel. Sura 43:3 dice: “Hemos hecho de ella un Corán árabe. Quizás, así, razonéis”. Por eso, para los musulmanes “cualquier traducción del Corán a otra lengua no puede sino desfigurar el texto”, dice el orientalista Jacques Jomier. De hecho, algunos eruditos islámicos rehúsan traducir el Corán. Su punto de vista es que traducir es siempre traicionar, y por lo tanto, “salvo en casos contados, el conjunto de los doctores de la ley prohíbe formalmente todo empleo litúrgico del Corán en traducción”, dice el mismo orientalista.
Las tres fuentes de enseñanza y guía
El Corán o Alcorán, del cual se dice que fue revelado a Mahoma por el ángel Gabriel. El significado y las palabras del Corán en árabe se consideran inspirados.
La Hadiz, o Sunna, “los actos, dichos y aprobación silenciosa (taqrīr) del Profeta fijados durante el segundo siglo [A.H.] en la forma de hadices escritas. Por lo tanto, una hadiz es el registro de una acción o de dichos del Profeta”. También se puede aplicar a las acciones o dichos de cualquiera de los “Compañeros [de Mahoma] o los Sucesores de estos”. En una hadiz, solo el significado se considera inspirado.—History of the Arabs (Historia de los árabes).
La Sharia, o derecho canónico, basada en principios del Corán, reglamenta religiosa, política y socialmente toda la vida del musulmán. “Todos los actos del hombre se clasifican en cinco categorías legales: 1) lo que se considera deber absoluto (farḍ) [que implica recompensa por obrar o castigo por no obrar]; 2) actos dignos de elogio o meritorios (mustaḥabb) [que implican una recompensa, pero ningún castigo por omisión]; 3) actos permisibles (jā’iz, mubāḥ), que en sentido legal son indiferentes; 4) acciones reprensibles (makrūh), que se desaprueban, pero no se castigan; 5) actos prohibidos (ḥarām), la realización de los cuales exige castigo.”—History of the Arabs.
Expansión islámica
14 Mahoma fundó su nueva fe en lucha contra grandes obstáculos. La gente de La Meca, aun de su misma tribu, lo rechazó. Después de 13 años de persecución y odio, él trasladó su centro de actividades hacia el norte a Yatrib, que entonces llegó a conocerse como al-Madinat (Medina), la ciudad del profeta. Esta emigración o hégira (hiŷra) en 622 E.C. señaló un punto significativo en la historia islámica, y posteriormente aquella fecha fue adoptada como el punto de partida del calendario islámico.
15 Con el tiempo Mahoma prevaleció cuando La Meca se rindió a él en enero de 630 E.C. (8 A.H.) y Mahoma llegó a ser su gobernante. Con las riendas del poder seglar y religioso en las manos, pudo limpiar de la Caaba las imágenes idolátricas y establecerla como el foco de las peregrinaciones a La Meca, que continúan hasta la actualidad.
16 Pocas décadas después de la muerte de Mahoma en 632 E.C. el islam se había esparcido hasta Afganistán y aun a Túnez en África del norte. Para principios del siglo VIII la fe coránica había penetrado en España y llegaba hasta la frontera francesa. Como declara el profesor Ninian Smart en su libro Background to the Long Search (Antecedentes de la larga búsqueda): “Considerado desde un punto de vista humano, el logro de un profeta árabe que vivió en los siglos VI y VII después de Cristo es asombroso. Según el parecer humano, de él provino una nueva civilización. Pero, por supuesto, para el musulmán la obra era divina y el logro era de Alá”.
La muerte de Mahoma lleva a desunión
17 La muerte del profeta ocasionó una crisis. Él murió sin dejar un hijo varón y sin designar claramente un sucesor. Como dice Philip Hitti: “El califato [puesto de califa] es, por lo tanto, el problema más antiguo con que tuvo que encararse el islam. Todavía es cuestión discutida. Según las palabras del historiador musulmán al-Shahrastāni [1086-1153]: ‘Nunca ha habido una cuestión islámica que haya causado más derramamiento de sangre que la del califato (imāmah)’”. ¿Cómo se resolvió el problema allá en 632 E.C.? “Abu Bakú, fue designado (el 8 de junio de 632) sucesor de Mahoma por alguna forma de elección en que participaron los jefes que estaban presentes en la capital, al-Madinat” (History of the Arabs). 18 El sucesor del profeta sería un gobernante, un jalifa o califa. No obstante, la cuestión de quiénes eran los verdaderos sucesores de Mahoma se convirtió en causa de divisiones en las filas del islam. Los musulmanes sunníes aceptan el principio de un puesto electivo más bien que el de descendencia del profeta. Por lo tanto, creen que los primeros tres califas, Abu Bakr (suegro de Mahoma), Omar (consejero del profeta) y Otmán (yerno del profeta), fueron los sucesores legítimos de Mahoma.
19 Objetan a esa alegación los musulmanes chiítas (shiítas), quienes dicen que el verdadero liderato viene por el linaje del profeta y mediante su primo y yerno, Alí ibn Abu Talib, el primer imam o imán (líder y sucesor), quien se casó con la hija favorita de Mahoma, Fátima. Del matrimonio de ellos vinieron los nietos de Mahoma llamados Hasán y Husein. Los chiítas también afirman “que desde el principio Alá y su Profeta habían designado claramente a Alí como el único sucesor legítimo, pero que los primeros tres califas lo habían privado por fraude de su puesto legítimo” (History of the Arabs). Claro, los musulmanes sunníes no opinan así.
20 ¿Qué le pasó a Alí? Durante su gobernación como el cuarto califa (656-661 E.C.) surgió una lucha por la jefatura entre él y el gobernador de Siria, Muawiya. Combatieron, y luego, para evitar más derramamiento de sangre entre musulmanes, sometieron su disputa a arbitraje. El que Alí aceptara un arbitraje debilitó su causa y apartó a muchos de sus seguidores, entre ellos a los jaridjitas (secesionistas), quienes se convirtieron en sus enemigos mortales. En el año 661 E.C., Alí fue asesinado con la punta envenenada de un sable por un fanático jaridjita. Los dos grupos (los sunníes y los chiítas) quedaron disgustados. La rama sunní del islam entonces escogió un líder de entre los omeyas, jefes acomodados de La Meca que no formaban parte de la familia del profeta.
21 Para los chiítas, Hasán, el primogénito de Alí y nieto del profeta, era el verdadero sucesor. Sin embargo, él abdicó y fue asesinado. Su hermano Husein llegó a ser el nuevo imán, pero él también murió a manos de soldados omeyas el 10 de octubre de 680 E.C. Su muerte o martirio (como lo consideran los chiítas) ha tenido un efecto significativo en el partido de Alí hasta nuestros días. Ellos creen que Alí era el verdadero sucesor de Mahoma y el primer “imán [líder] protegido divinamente de error y pecado”. Para los chiítas Alí y sus sucesores eran maestros infalibles que tenían “el don divino de la impecabilidad”. El grupo mayoritario de los chiítas cree que ha habido solo 12 verdaderos imanes, y el último de estos, Mahomet al-Muntazar, desapareció (878 E.C.) “en la cueva de la gran mezquita de Samarra sin dejar prole”. Así, “llegó a ser ‘el oculto (mustatir)’ o ‘el imán esperado (muntaẓar)’. Al debido tiempo aparecerá como el Mahdi (guiado divinamente) para restablecer el islam verdadero, conquistar todo el mundo e introducir un milenio breve antes del fin de todas las cosas” (History of the Arabs).
22 Cada año los chiítas conmemoran el martirio del imán Husein. Tienen procesiones en las cuales algunos se cortan con cuchillos y espadas, y se causan sufrimiento de otras maneras. En los últimos tiempos los musulmanes chiítas han recibido mucha publicidad debido a su celo por las causas islámicas. No obstante, representan solo cerca del 20% de los musulmanes del mundo, que en su mayoría son sunníes. Pero ahora examinemos algunas enseñanzas del islam y notemos qué efecto tiene la fe islámica en la conducta diaria de los musulmanes.
Dios es supremo, no Jesús 23 Las tres principales religiones monoteístas del mundo son el judaísmo, el cristianismo y el islam. Pero para cuando apareció Mahoma hacia el principio del siglo VII Era Cristiana., desde el punto de vista de él las primeras dos religiones se habían apartado de la senda de la verdad. De hecho, según algunos comentaristas islámicos el Corán da a entender un rechazamiento de los judíos y de los cristianos cuando declara: “No [la vía] de los que han incurrido en la ira, ni de los extraviados”. (Sura 1:7.) ¿A qué se debe esto?
24 Un comentario sobre el texto coránico declara: “El Pueblo del Libro se extravió: Los judíos al violar su Pacto, y calumniar a María y Jesús y los cristianos al elevar a Jesús el Apóstol a igualdad con Dios” mediante la doctrina de la Trinidad. (Sura 4:153-176, AYA.)
25 La enseñanza principal del islam, por su absoluta sencillez, es lo que se conoce como la shahada o confesión de fe, que todo musulmán sabe de memoria: “La ilāh illa Allāh; Muḥammad rasūl Allāh” (No hay más dios que Alá; Mahoma es el mensajero de Alá). Esto concuerda con la expresión coránica: “Vuestro Dios es un Dios Uno. No hay más dios que Él, el Compasivo, el Misericordioso”. (Sura 2:163.) Esta idea se expresó 2.000 años antes en el antiguo llamamiento a Israel: “Escucha, oh Israel: Jehová nuestro Dios es un solo Jehová”. (Deuteronomio 6:4.) Jesús repitió este mandato, el mayor, que está escrito en Marcos 12:29, unos 600 años antes de Mahoma, y en ninguna parte afirmó Jesús ser Dios o igual a Él. (Marcos 13:32; Juan 14:28; 1 Corintios 15:28.)
26 Respecto a la unicidad de Dios el Corán declara: “Creed, pues, en Dios y en sus apóstoles, y no digáis: ‘Trinidad’. Absteneos de ello y será mejor para vosotros; porque, Dios es un dios único”. (Sura 4:171, CA.) No obstante, debemos señalar que el cristianismo verdadero no enseña una Trinidad. Esa es una doctrina de origen pagano que introdujeron apóstatas de la cristiandad después de la muerte de Cristo y los apóstoles.
Las Seis Columnas de la Fe
  1. Fe en un solo Dios, Alá (Sura 23:116, 117)
  2. Fe en los ángeles (Sura 2:177)
  3. Los libros sagrados: la Torá, el Evangelio, los Salmos, los Rollos de Abrahán, el Corán
  4. Fe en muchos profetas, pero un solo mensaje. Adán fue el primer profeta. Otros han sido Abrahán, Moisés, Jesús y “el sello de los profetas”, Mahoma (Sura 4:136; 33:40)
  5. Fe en un día del juicio, cuando se levanten de las tumbas a todos los muertos (Sura 15:35, 36)
  6. Fe en la omnisciencia y presciencia de Dios, y en que él determina todo lo que sucede. Sin embargo, el hombre tiene libertad de elección en sus actos. [Las sectas islámicas están divididas sobre la cuestión del libre albedrío] (Sura 9:51)
Alma, resurrección, paraíso e infierno
27 El islam enseña que el hombre tiene un alma que pasa a un más allá. El Corán dice: “Dios llama a las almas cuando mueren y cuando, sin haber muerto, duermen. Retiene aquéllas cuya muerte ha decretado”. (Sura 39:42.) Al mismo tiempo, el sura 75 está dedicado totalmente a “La Resurrección”. En parte dice: “¡Juro por el día de la Resurrección! ¿Cree el hombre que no juntaremos sus huesos? Pregunta: ‘¿Cuándo será el día de la Resurrección?’ Ese tal [Alá], ¿no será capaz de devolver la vida a los muertos?”. (Sura 75:1, 3, 6, 40.)
28 Según el Corán, el alma puede tener diferentes destinos, que pueden ser: o un jardín celestial paradisíaco, o el castigo de un infierno ardiente. Como declara el Corán: “Preguntan: ‘¿Cuándo llegará el día del juicio final?’ ¡El día en que sean torturados en el fuego! ‘Se les dirá: “¡Sufrid vuestra tortura! ¡He aquí lo que pretendíais urgir!”’”. (Sura 51:12-14, CA.) “Tendrán [los pecadores] un castigo en la vida de acá, pero en la otra tendrán un castigo más penoso. No tendrán quien les proteja contra Dios.” (Sura 13:34.) Se presenta la pregunta: “Y ¿cómo sabrás qué es? ¡Un fuego ardiente!”. (Sura 101:10, 11.) Este terrible destino se describe con lujo de detalles: “Por cierto que, a quienes niegan nuestras aleyas les introduciremos en el fuego infernal. Cada vez que su piel se haya abrasado, se la cambiaremos por otra piel, para que experimenten el suplicio; porque, Dios es poderoso, prudente”. (Sura 4:56, CA.) En otro lugar dice: “Por cierto que, el infierno será una emboscada, donde permanecerán siglos. En que no probarán sueño ni más bebida, que agua hirviente e icor”. (Sura 78:21, 23-25, CA.)
29 Los musulmanes creen que el alma de un difunto pasa a la Barzakh o “Barrera”, “una barrera que participa de lo temporal (tiempo intermedio entre la hora de la muerte y la hora de la resurrección)”. (Sura 23:99, 100.) El alma está consciente allí experimentando castigo si la persona ha sido impía, o disfrutando de felicidad si ha sido fiel. Pero los fieles también tienen que experimentar alguna tortura debido a los pocos pecados que hayan cometido durante su vida. En el día del juicio, cada uno se encara con su destino eterno, que pone fin a este estado intermedio.
30 En contraste con eso, a los justos se les prometen los jardines celestiales del paraíso: “A quienes creen y obren bien, les introduciremos en Jardines por cuyos bajos fluyen arroyos, en los que estarán eternamente, para siempre”. (Sura 4:57.) “Por cierto que, hoy los dilectos del Paraíso se entregarán al júbilo; ellos con sus esposas estarán en gratas umbrías, acodados sobre los sofás.” (Sura 36:55, 56, CA.) “Hemos escrito en los Salmos, después de la Amonestación, que la tierra la heredarán Mis siervos justos.” La nota en este sura remite al lector a Salmo 37:29. (Sura 21:105.) En otra versión (AYA) también se remite a Salmo 25:13 y a las palabras de Jesús en Mateo 5:5. La referencia a esposas nos lleva ahora a otra pregunta.
¿Monogamia, o poligamia?
31 ¿Es la poligamia lo normal entre los musulmanes? Aunque el Corán permite la poligamia, muchos musulmanes tienen una sola esposa. Debido a las muchas viudas que hubo después de costosas batallas, el Corán hizo lugar para la poligamia: “Si teméis no ser justos con los huérfanos, casaos con las mujeres que os gusten: dos, tres o cuatro. Pero, si teméis no obrar con justicia, casaos con una sola o con vuestras esclavas”. (Sura 4:3.) Una biografía de Mahoma por Ibn-Hishām menciona que Mahoma se casó con una viuda acaudalada, Jadiya, que era 15 años mayor que él. Después de la muerte de ella, se casó con muchas mujeres. Cuando murió, dejó nueve viudas.
32 En el islam hay otra forma de matrimonio que se llama muta. Se define como “un contrato especial concertado entre un hombre y una mujer mediante oferta y aceptación de matrimonio por un período limitado y con una dote especificada como en el contrato para el matrimonio permanente” (Islamuna, por Muṣṭafā al-Rāfi‛ī). Los sunníes lo llaman un matrimonio de placer, y los chiítas lo llaman un matrimonio que ha de terminar en un período específico. La misma fuente dice: “Los hijos [de esos matrimonios] son legítimos y tienen los mismos derechos que los hijos de un matrimonio permanente”. Parece que esta forma de matrimonio temporal se practicaba en los días de Mahoma, y él permitió que continuara. Los sunníes insisten en que después se prohibió, mientras que los imamíes, el mayor entre los grupos chiítas, creen que todavía está en vigor. De hecho, muchos practican esta forma de matrimonio, especialmente cuando el hombre está alejado de su esposa por largo tiempo.
El islam y la vida cotidiana
33 El islam implica cinco obligaciones principales y cinco creencias fundamentales. Una de las obligaciones es que el musulmán devoto se vuelva hacia La Meca cinco veces al día en oración (salat). En el día de descanso musulmán (el viernes) los hombres acuden a la mezquita cuando oyen al almuédano convocarlos a la oración desde el alminar. Hoy día muchas mezquitas ponen una grabación en vez de tener a alguien que dé a voces la llamada.
34 La mezquita (árabe: masjid) es el lugar de adoración musulmán, descrito por el rey Fahd ibn Abdul Aziz de la Arabia Saudí como “la piedra angular del llamamiento a Dios”. Él definió la mezquita como “un lugar de oración, estudio, actividades legales y judiciales, consulta, predicación, guía, educación y preparación. La mezquita es el corazón de la sociedad musulmana”. Estos lugares de adoración se ven ahora por todo el mundo. Uno de los más famosos de la historia es la mezquita de Córdoba, España, que por siglos fue la mayor del mundo.
Conflicto con la cristiandad y dentro de ella
35 Desde el siglo VII el islam se extendió hacia el oeste al África del norte, hacia el este a Paquistán, India y Bangladesh, y al sur a Indonesia. Mientras se extendía, entró en conflicto con una Iglesia Católica militante, que organizó cruzadas para recobrar de manos de los musulmanes la Tierra Santa. En 1492 la reina Isabel y el rey Fernando de España completaron la reconquista católica de España. Los musulmanes y los judíos tendrían que convertirse, o serían expulsados de España. La tolerancia mutua que había existido bajo el dominio musulmán en España desapareció después bajo la influencia de la Inquisición católica. No obstante, el islam sobrevivió, y en el siglo XX ha experimentado un resurgimiento y gran expansión.
36 Mientras el islam se extendía, la Iglesia Católica pasaba por su propia agitación al tratar de mantener la unidad en sus filas. Pero dos vigorosas influencias estaban por irrumpir en el escenario de los acontecimientos, y estas fragmentarían aún más la imagen monolítica de aquella iglesia. Estas fueron: la imprenta y la Biblia en el idioma de la gente.
Las Cinco Columnas de la Observancia
  1. Repetir el credo (shahada): “No hay más Dios que Alá; Mahoma es el mensajero de Alá” (Sura 33:40)
  2. Oración (salat) hacia La Meca cinco veces al día (Sura 2:144)
  3. Caridad (zakat), la obligación de dar cierto porcentaje de los ingresos de uno y del valor de alguna propiedad (Sura 24:56)
  4. Ayuno (saum), especialmente durante la celebración de Ramadán, que dura un mes (Sura 2:183-185)
  5. Peregrinación (hayy). Una vez en la vida, todo varón musulmán tiene que hacer el viaje a La Meca. Solo la enfermedad y la pobreza son excusas lícitas (Sura 3:97)
El bahaísmo... en busca de la unidad mundial
1 El bahaísmo o behaísmo no es una secta del islam, sino una ramificación del babismo, un grupo de Persia (hoy Irán) que se separó de la rama chiíta del islam en 1844. El líder de los babistas fue Mirza Alí Mohamed, de Shiraz, quien se proclamó el Bab (“la Puerta”) y el imam-mahdi (“líder rectamente guiado”) de la línea de Mahoma. Fue ejecutado por las autoridades persas en 1850. En 1863 Mirza Husein Alí Nuri, miembro prominente del grupo babista, “se declaró ‘Aquel a quien Dios pondrá de manifiesto’, a quien el Bab había predicho”. También adoptó el nombre de Baha Allah (“Esplendor de Dios”) y formó una nueva religión, el bahaísmo.
2 Baha Allah fue desterrado de Persia y con el tiempo fue encarcelado en Acco (hoy Acre, Israel). Allí escribió su obra principal, al-Kitab al-Aqdas (El Libro Santísimo), y dio forma abarcadora a la doctrina del bahaísmo. Al morir Baha Allah, la dirección de aquella religión en ciernes pasó a su hijo Abd al-Baha, y después a su bisnieto, Shoghi Effendi Rabbani, y en 1963 a un cuerpo administrativo electo conocido como la Casa Universal de Justicia.
3 Los bahaístas creen que Dios se ha revelado al hombre mediante “Manifestaciones Divinas”, que son: Abrahán, Moisés, Krisna, Zoroastro, el Buda, Jesús, Mahoma, el Bab y Baha Allah. Creen que estos mensajeros fueron provistos para guiar a la humanidad por un proceso evolutivo en el cual la aparición del Bab inició una nueva era para la humanidad. Los bahaístas dicen que hasta la fecha su mensaje es la revelación más plena de la voluntad de Dios, y que es el instrumento principal dado por Dios que hará posible la unidad mundial. (1 Timoteo 2:5, 6.)
4 Uno de los preceptos básicos del bahaísmo es “que todas las grandes religiones del mundo tienen origen divino, que sus principios fundamentales están en completa armonía”. Estas “solo difieren en los aspectos no esenciales de sus doctrinas”. (2 Corintios 6:14-18; 1 Juan 5:19, 20.)
5 Entre las creencias bahaístas están la unicidad de Dios, la inmortalidad del alma y la evolución (biológica, espiritual y social) de la humanidad. Por otra parte, el bahaísmo rechaza el concepto común de los ángeles. También rechaza la Trinidad, la enseñanza hinduista de la reencarnación, y tanto la caída humana desde su estado de perfección como el rescate posterior de la humanidad mediante la sangre de Jesucristo. (Romanos 5:12; Mateo 20:28.)
6 La hermandad del hombre y la igualdad de las mujeres son rasgos principales del bahaísmo. Los bahaístas practican la monogamia. Por lo menos una vez al día rezan una de las tres oraciones reveladas por Baha Allah. Practican el ayuno desde la salida hasta la puesta del Sol durante los 19 días del mes bahaísta de ‘Alā, que cae en marzo. (El calendario bahaísta consiste en 19 meses, de 19 días cada uno, con algunos días intercalares.)
7 El bahaísmo no tiene muchos ritos fijos ni tiene clero. Quienquiera que profese fe en Baha Allah y acepte sus enseñanzas puede inscribirse como miembro. Los bahaístas se reúnen para adorar en el primer día de cada mes bahaísta.
8 Los bahaístas se ven como un grupo que tiene la misión de la conquista espiritual del planeta. Tratan de esparcir su fe mediante la conversación, el ejemplo, el participar en proyectos de la comunidad y en campañas de información. Creen en obediencia absoluta a las leyes del país donde residen, y aunque votan, no participan en la política. Prefieren el servicio no combatiente en las fuerzas armadas cuando les es posible, pero no son objetores de conciencia.
9 Como religión misional, el bahaísmo ha crecido rápidamente durante los últimos años. Los bahaístas calculan que por todo el mundo tienen casi 5.000.000 de creyentes, aunque de hecho el registro de adultos en su religión es de poco más de 2.300.000.
[Notas] Los musulmanes creen que la Biblia contiene revelaciones de Dios, pero que algunas fueron falsificadas posteriormente.
En español el nombre del profeta se ha escrito de varias maneras (Mahoma, Muhammad, Mahomet, Mohamed, etc.). Aquí usamos Mahoma.
Así, el año musulmán se da como A.H. (latín: Anno Hegirae, año de la huida), más bien que A.D. (Anno Domini, año del Señor).
Sobre el asunto del alma y el infierno de fuego, compárese esto con los siguientes textos bíblicos: Génesis 2:7; Ezequiel 18:4; Hechos 3:23.
submitted by Confidencial to podemos [link] [comments]


2015.05.11 13:09 qryq China humilla a Estados Unidos y marca el ritmo de la nueva geopolítica (y 2).

¿Qués es el BAII?
El Banco Asiático de Inversión en Infraestructuras fue propuesto en octubre de 2013 por el presidente chino, XI Jinping, en un discurso ante el parlamento de Indonesia y se constituyó formalmente el 24 de octubre de 2014 en una ceremonia en Beijing con los representantes de los 21 países inicialmente considerados fundadores: China, India, Tailandia, Malasia, Singapur, Filipinas, Pakistán, Bangladesh, Brunei, Camboya, Kazajstán, Kuwait, Laos, Myanmar, Mongolia, Nepal, Omán, Qatar, Sri Lanka, Uzbejistán y Viernam. Es curioso que Indonesia, el país donde se propuso, no farmarse parte inicialmente del mismo, aunque un mes más tarde rectificó y solicitó su ingreso como miembro fundador. Y es significativo que dos países con los que China tiene litigios históricos, como India y Viernam, se hayan unido desde el primer momento, porque pone de manifiesto que la política que se recoge en el "Consenso de Beijing" es algo más que una mera retórica.
Como también se ha dicho antes, en la actualidad son 57 los países que forman parte del BAII, entre ellos Rusia, Sudáfrica, Irán y Brasil. En total, son 34 países asiáticos, 18 europeos, 2 africanos, 2 oceánicos y un latinoamericano.
Tiene como objetivos la infraestructura básica, la electricidad, el acceso al agua potable, la construcción de plantas de tratamiento de aguas residuales y medios de transporte. Tendrá una capitalización cercana a los 100.000 millones de dólares, en su mayor parte proporcionados por China.
No obstante, y para diferenciarse de Estados Unidos en el BM y el FMI, China rechaza expresamente tener la mayoría del capital en votos por lo que su decisión nunca será un motivo de bloqueo mecánico. En el FMI basta con que EEUU diga que no para que algo no se haga. En el BAII no habrá una situación similar y no habrá condiciones a los países, al estilo de los "programas de ajuste" del FMI, porque con el BAII <>, como no hacen el FMI o el BM. Es decir, por mucho que algunos quieran hacer ver que el BAII es un "complemento" del FMI y el BM, no tiene nada que ver, es su claro reemplazo.
China no quería bajo ningún concepto que se pudiese comparar con su modelo de "poder blando" con los métodos utilizados por Estados Unidos en los últimos 70 años con las instituciones surgidas de Bretton Woods. Es decir, sin ser considerado un país que se entromete en los asuntos de los países y con presiones políticas en ellos. Eso lo logra claramente con el BAII.
Pero también China lleva años fortaleciendo su moneda, el yuan o remimbi, internacionalizados ya de hecho, que no de derecho y que en su prioridad número uno es la presión que viene haciendo para que se revisen las cuotas de la cesta de la moneda de reserva del FMI. Ese es el comienzo del fin del dólar, la baza estratégica de China porque no falta mucho para que el yuan o remimbi (que significa "moneda del pueblo") va de forma clara a convertirse en moneda de reserva mundial, disputando la hegemonía del dólar.
En la actualidad, el yuan ya es el quinto medio de moneda de pago de los países, y eso que no es una divisa internacional aún. Mientras la moneda china sube, el dólar baja. Por ejemplo, si hace cinco años el dólar suponía el 72% de las reservas de divisas del mundo, ahora es sólo el 62%, mientras el yuan ya está al 2,9% (y no es divisa internacional todavía) y las previsiones son que este mismo año se sitúe en el 10% si, tal y como quiere China y se verá obligado a reconocer el FMI, la moneda china pasa a ser parte del sistema de derechos especiales de giro. El camino de la desdolarización se acelera, y tanto China como Rusia tienen mucho que ver en ello.
El BAII se suma a otra iniciativa que ya está en marcha y que será operativa el año que viene: el Banco de Nuevo Desarrollo de los BRICS. En él China también va a tener una participación mayoritaria, el 41% del capital. Serán otros 100.000 millones de dólares, de los que Rusia, Brasil e India pondrán cada uno 18.000 millones, Sudáfrica 5.000 millones y el resto China. Luego en el 2016, habrá otro orden geopolítico claro, especialmente en el ámbito económico aunque no sólo. Todos los países BRICS están también en el BAII.
Esto es lo que preocupa a Estados Unidos y a la Unión Europea. Por eso los esfuerzo de Washington para contener lo incontenible. El nacimiento de una estructura multilateral debe ser bienvenido porque asentado el poder económico, vendrá un subyacente poder militar capaz de bloquear a la OTAN. En este sentido, es relevante lo que ocurra este año en la XIV Cumbre de Jefes de Gobierno de la Organización de Cooperación de Shangai (OCS) que tendrá lugar en China, aún sin tener fecha señalada, aunque inicialmente se hablaba de ella para este verano. No obstante, y dado que Irán a pedido ser miembro de pleno derecho de la OCS y que el 30 de junio es la fecha tope para la firma definitiva o no del acuerdo sobre su programa nuclear, es muy probable que se retrase dicha cita hasta finales de año, si el acuerdo finalmente no se rubrica, dado que Irán habla de que sólo habrá firma final si ese mismo día se levantan las sanciones a que está sometido, a lo que se opone Estados Unidos.
Adios a la Asociación Trans.Pacífico (ATP)
Pero esto no es todo. El BAII ha herido de muerte a la Asociación Trans-Pacífico (Australia, Brunei, Canadá, Chile, Japón, Malasia, México, Nueva Zelanda, Perú, Singapur, Estados Unidos y Viernam) que con tanto empeño y cuidado montó Estados unidos para dejar fuera a China. Ahora los chinos le han devuelto el golpe, y con creces. También por la chulería y prepotencia de Estados Unidos, que durante tres años ha estado retrasando el acuerdo final de la ATP por un enfrentamiento con Japón y Canadá por temas agrícolas y de la industria automotriz. A primeros de este año el Congreso de los Estados Unidos decidió retrasar el tema hasta 2017, lo que dio argumentos a algunos de los integrantes de la ATP (como Australia y Singapur, por ejemplo) para sumarse al BAII. Ahora, una vez que estos dos países han decidido formar parte del BAII, el Comité del Congreso estadounidense ha decidido tramitar la ATP "por la vía rápida". Pero, al igual que con el dilema al que se enfrenta Japón, aunque se haga, también llega tarde.
Este impasse ha sido, también, aprovechado por China, que ha propuesto que una vez esté en marcha el BAII, se ponga en funcionamiento el Área de Libre Comercio del Asia-Pacífico, con lo que liquida la ATP. Aquí los países latinoamericanos tendrán que estar, algo que ahora no han hecho en el BAII.
Tomando todo esto en conjunto, representa la más formidable humillación hecha jamás a Estados unidos y el desafío geopolítico de este siglo XXI que se va a parecer muy poco al siglo XX. Es cierto que aún hay incógnitas que despejar, como si el proceso de desdolarización de la economía va a ser lento o rápido y, por el momento, tanto el BAII como el BD de los BRICS van a funcionar con dólares- pero es un hecho que todo indica que esto es coyuntural, como se ha indicado antes con el interés de China por internacionalizar el yuan o remimbi.
Estamos asistiendo a la profundización estratégica de China y a unos momentos que pasarán a la historia. La creación del BAII supone el fin del rol de Estados unidos como garante del sistema económico mundial. No es extraño que China haya considerado "una aplastante victoria" la incorporación de tantos países al BAII pese a las presiones de Estados Unidos.
submitted by qryq to podemos [link] [comments]


Chicas de Indonesia Cita Citata - Goyang Dumang (Official Music Video) - YouTube Cita Citata - Bahagia Itu Sederhana (Official Music Video ... Tutorial: generación de citas por internet - YouTube INDONESIAN HOT MUSIC SONG. 'GOYANG DUMANG ' By Cita Citata ... Cita Citata & iMeyMey FULL ALLBUM Lagu Dangdut Terbaik ... Melly Goeslaw & Eric - Ada Apa Dengan Cinta (AADC ... Indonesio para principiantes ¡Aprende rápido palabras ... COFEPRIS ESTABLECE NUEVO SISTEMA ELECTRÓNICO DE CITAS ... Aprendiendo bahasa Indonesia with María

Sitio De Citas En Linea Gratis En Indonesia - manualsoaspin30

  1. Chicas de Indonesia
  2. Cita Citata - Goyang Dumang (Official Music Video) - YouTube
  3. Cita Citata - Bahagia Itu Sederhana (Official Music Video ...
  4. Tutorial: generación de citas por internet - YouTube
  5. INDONESIAN HOT MUSIC SONG. 'GOYANG DUMANG ' By Cita Citata ...
  6. Cita Citata & iMeyMey FULL ALLBUM Lagu Dangdut Terbaik ...
  7. Melly Goeslaw & Eric - Ada Apa Dengan Cinta (AADC ...
  8. Indonesio para principiantes ¡Aprende rápido palabras ...
  9. COFEPRIS ESTABLECE NUEVO SISTEMA ELECTRÓNICO DE CITAS ...
  10. Aprendiendo bahasa Indonesia with María

Cita Citata & iMeyMey FULL ALLBUM Lagu Dangdut Terbaik 2018 2019 HD Audio HD Cita Citata & iMeyMey FULL ALLBUM Lagu Dangdut Terbaik 2018 2019 HD Audio HD Cit... Biar gak ketinggalan update lagu-lagu yang lagi hits, yuk liat New Release Playlist kita disini https://bit.ly/2UyRw6w Jangan lupa subscribe Aqmvideo Channel... COFEPRIS ESTABLECE NUEVO SISTEMA ELECTRÓNICO DE CITAS. Ahora es más fácil agendar, consultar y cancelar tu cita, la confirmación es automática. ** A partir del 29 de enero de 2016 nuestro número de atención cambi... Hi Dangdut Mania Karaokean yuk dengan lagu cita citata terbaru Jangan Lupa Like & Subcribenya Ya..... ===== Watch & Listen to Cita Citata' New Song: 1. Pur... Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube. Hey hey hey:) Gracias por ver este video,y perder como 12 min de tu vida 💜 No te olvides de sonreír que así te ves hermosa🌸 TENGO PÁGINA DE FACEBOOK:https://... Mejores Listas y Frases Recommended for you. 2:40. Ligando Chica de INDONESIA - Infield - Duration: 6:36. Daygame Latinoamerica Recommended for you. 6:36 Hidup bahagia adalah dambaan dari setiap manusia. Dikala kita bahagia segalanya akan terasa indah dan hati pun terasa tentram dan damai. Tapi, apa makna baha... Si deseas aprender indonesio, debes escuchar y hablar con la mayor frecuencia posible siguiendo una rutina diaria. Te mostraremos la mejor manera de aprender...